Header Ads

GDP Tahunan Cina Di Kuartal Pertama Melebihi Ekspektasi

Pemerintah Cina telah merilis serangkaian sejumlah data ekonomi resmi yang mengalahkan ekspektasi, termasuk angka produk domestik bruto yang ditunggu oleh pelaku pasar sebagai acuan untuk melihat sampai sejauh mana kebijakan Beijing untuk memacu pertumbuhan ekonominya.

Pemerintah Beijing mengatakan bahwa ekonominya tumbuh 6.4% di tingkat tahunan pada kuartal pertama tahun ini, yang melampaui perkiraan para analis di angka 6.3% melalui survei Reuters. Angka pertumbuhan GDP ini tidak berubah dari pencapaian GDP tahunan di kuartal keempat tahun lalu, namun masih lebih rendah dari 6.8% yang dicatat di periode yang sama tahun 2018.

Selain itu Cina juga merilis data produksi industri mereka yang melonjak 8.5% di tingkat tahunan di bulan Maret, melonjak melebihi perkiraan 5.9% oleh Reuters dan mencatat pertumbuhan tercepatnya sejak Juli 2014 silam. Untuk penjualan ritel bulan Maret tumbuh sebesar 8.7% di tingkat tahunan, mengalahkan proyeksi 8.4% dalam survei Reuters.

Data investasi aset tetap di kuartal pertama dirilis dengan peningkatan 6.3% di tingkat tahunan, yang sesuai dengan harapan pasar. Akhir-akhir ini para investor telah memperhatikan kesehatan ekonomi Cina, sebagai negara ekonomi terbesar kedua dunia, di tengah sengketa perdagangan Beijing dengan Washington.

Meskipun angka GDP Cina telah menjadi fokus perhatian pasar selama ini, namun masih banyak ahli yang bersikap skeptis mengenai kebenaran laporan resmi dari pemerintah Cina. Yifan Hu selaku kepala investasi regional dan kepala ekonom China di UBS Global Wealth Management, mengatakan bahwa dirinya melihat adanya dampak dari kebijakan yang diambil oleh pemerintah Cina, dan mengharapkan pihak berwenang Cina untuk memperkenalkan kebijakan yang lebih mendukung karena ketidakpastian seputar perdagangan yang masih mempengaruhi sentimen pasar global, meskipun saat ini pihak AS dan Cina masih bernegosiasi untuk mencapai kata sepakat setelah masing-masing menahan diri untuk tidak memberlakukan kebijakan tarif impornya.

Pernyataan ini nampaknya sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Biro Statistik Nasional Cina, yang mengatakan bahwa meskipun terlihat sejumlah sinyal positif, namun ekonomi Cina nampaknya masih akan menghadapi tekanan dari lingkungan eksternal.

Sementara itu JPMorgan Asset Management menilai bahwa pemerintah Beijing kemungkinan akan sedikit menahan stimulus yang baru, guna menghindari akumulasi tingkat hutang. Sebelumnya sejumlah indikator yang disusun oleh sejumlah individu dari sumber yang resmi, menunjukkan adanya perbaikan ekonomi Cina, yang sebagian besar didukung oleh langkah-langkah stimulus dari pemerintah Beijing.

Pada bulan Maret, Cina melaporkan ekspor yang jauh lebih tinggi dari yang diharapkan, dan ekspansi tak terduga dalam aktivitas manufaktur negara itu. Selama ini perselisihian kebijakan tarif antara AS dan Cina telah memberikan tekanan terhadap aktifitas ekonomi secara global, terutama selama periode paruh kedua di tahun lalu. Sehingga hal ini memberikan tekanan terhadap Cina yang tengah berusaha untuk mengalihkan ketergantungan ekonominya terhadap tingkat hutang yang menimbulkan kekhawatiran tentang ekonomi Cina yang berpotensi mengalami keterpurukan.(WD)

Related posts