Header Ads

GfK : Stimulus Dukung Sentimen Konsumen Jerman

Kebijakan pemerintah Jerman yang memangkas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang merupakan bagian dari paket stimulus untuk membantu pemulihan laju perekonomian dari guncangan yang disebabkan oleh pandemi virus, berhasil mengangkat semangat sektor konsumen di negara tersebut.

Lembaga GfK merilis indeks sentimen konsumen berdasarkan hasil survei terhadap sekitar dua ribu warga Jerman, yang naik menjadi minus 0.3 menjelang Agustus dari revisi di angka minus 9.4 di bulan sebelumnya, yang merupakan kenaikan bulanan untuk ketiga kalinya secara beruntun dan mengalahkan perkiraan Reuters di angka minus 0.5.

Salah seorang peneliti dari lembaga GfK, Rolf Buerkl mengatakan bahwa perkembangan sentimen konsumen selama pandemi menyerupai grafik pemulihan berbentuk V di mana penurunan tajam diikuti oleh rebound dalam laju yang cepat.

Lebih lanjut Buerkl mengatakan bahwa tidak ada keraguan bahwa pengurangan pajak pertambahan nilai telah memberikan kontribusi terhadap kemajuan yang sangat positif, jelas bahwa konsumen ingin melakukan pembelian besar lebih awal dari yang direncanakan, yang akan membantu memberikan dorongan bagi laju pengeluaran di tahun ini.

Tetapi dia mengingatkan bahwa efek positif bisa bersifat sementara karena konsumen dapat mengurangi pembelian begitu penurunan tarif PPN berakhir pada Januari 2021.

Paket stimulus Jerman termasuk potongan PPN untuk barang-barang reguler menjadi 16% dari 19% dan untuk makanan serta beberapa barang lainnya menjadi 5% dari 7% dari 1 Juli hingga 31 Desember, pengurangan akan dikenakan biaya pemerintah federal hingga 20 miliar Euro ($23.17 milliar).

GfK mengatakan bahwa dalam hal ini kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian serta ekspektasi pendapatan pribadi mereka meningkat dalam tiga bulan berturut-turut, serta mereka menjadi lebih optimis mengenai perkembangan ekonomi secara keseluruhan.

Buerkl juga mengatakan bahwa konsumen semakin mendapat kesan bahwa ekonomi Jerman kemungkinan besar akan segera pulih, dibantu oleh langkah-langkah stimulus dari pemerintah, dengan kondisi bahwa tingkat infeksi virus di negara ekonomi terbesar Eropa itu masih berada di kisaran yang rendah, dan kebijakan lockdown berikutnya akan menghancurkan harapan pemulihan ekonomi dengan lebih cepat.(WD)

Related posts