Greenback Berhasil Menguat Terhadap Sejumlah Mata Uang Utama

Greenback berhasil menemukan pijakan baru di sesi perdagangan waktu Asia pada hari ini, seiring para investor yang kembali memburu safe haven dan melepaskan sejumlah keuntungan dari mata uang berisiko di tengah harapan melambatnya krisis virus di Eropa dan AS.

Mata uang US Dollar menguat terhadap sebagian besar mata uang utama selain safe haven Yen Jepang. setelah sehari sebelumnya mengalami penurunan terburuk terhadap sejumlah mata uang utama dunia ke level terendahnya dalam hampir dua pekan terkahir.

Meskipun keuntungan yang diraih oleh safe haven cenderung kecil, namun mampu menunjukkan laju kenaikan yang relatif lebih cepat di sesi perdagangan pagi ini, seiring reli yang terjadi dalam dua hari terkahir di pasar ekuitas Asia sudah mulai kehilangan tenaga dan hal ini mendorong kenaikan obligasi dan emas.

Ray Attrill selaku kepala strategi FX di National Australia Bank di Sydney, mengatakan bahwa aksi hindar risiko dan kenaikan US Dollar berjalan beriringan, yang mana pihaknya menilai bahwa pasar akan tetap dihiasi oleh pergerakan volatile, namun mereka juga tidak dapat mengharapkan adanya aliran berita baik atau buruk yang mampu mengubah arah pergerakan pasar.

Dari seluruh mata uang utama dunia, US Dollar menguat paling besar terhadap Aussie dan Kiwi yang merupakan mata uang sensitif risiko, masing-masing sekitar 0.5%. Mata uang Aussie terguncang setelah lembaga pemeringkat S&P menurunkan peringkat AAA dar stabil menjadi negatif.

Sementara itu kondisi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang dirawat intensif dilaporkan telah stabil, sehingga greenback hanya mencatat kenaikan tipis terhadap Poundsterling di sesi perdagangan Asia pagi ini.

Para investor saat ini tengah memperhatikan kondisi kota Wuhan yang telah dibuka kembali dari kondisi lockdown, untuk mendapatkan petunjuk mengenai bagaimana negara lainnya di dunia dapat bergerak saat kondisi terburuk telah berlalu.

Selain itu investor juga akan mencermati Federal Reserve yang akan merilis risalah pertemuan darurat mereka di bulan lalu, yang kemungkinan mencakup lebih banyak komentar mengenai seberapa dalam kontraksi ekonomi yang tengah membayangi AS.

Hal ini disampaikan oleh analis mata uang Commonwealth Bank of Australia, Joe Capurso yang mengatakan bahwa sementara kurva penyebaran virus mulai mendatar, namun dampak ekonomi dari krisis corona akan bertahan selama bertahun-tahun, dan saat ini ekonomi membutuhkan waktu untuk dibuka kembali, meskipun sejumlah bisnis nampaknya tidak akan kembali dibula dan tingkat pengangguran membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih, sehingga hal ini tentunya akan kembali memberikan dukungan bagi US Dollar dan Yen.(WD)

Related posts