Greenback Melemah Saat Investor Menunggu Petunjuk Powell

Nilai tukar US Dollar semakin terbenam hingga mendekati level terendahnya di pekan ini saat para investor tengah mencari petunjuk dari Ketua The Fed Jerome Powell mengenai kemungkinan bank sentral akan mengubah kerangka kebijakannya untuk membantu memberikan dorongan terhadap inflasi.

Jerome Powell dijadwalkan akan berpidato di konferensi tahunan Federal Reserve yang diadakan di Jackson Hole, Wyoming pada hari ini waktu setempat, yang diperkirakan akan dilakukan secara virtual di tahun ini akibat pandemi Covid-19 yang melanda dunia.

Sesaat menjelang dibukanya sesi perdagangan waktu Eropa, para investor bertaruh bahwa bank sentral AS akan memperkenalkan kerangka kebijakan baru untuk melawan inflasi yang terus menerus berada dalam kondisi rendah di awal bulan depan.

Hal ini dinilai oleh Kyosuke Suzuki yang menjabat sebagai direktur forex di Societe Generale, yang mengatakan bahwa jika Federal Reserve ternyata kurang bernada dovish dibandingkan perkiraan pasar, maka akan terjadi rally dalam nilai tukar US Dollar.

Indeks Dollar, yang dipakai sebagai ukuran kekuatan greenback terhadap mata uang utama lainnya, terpantau mendekati level terendahnya sepanjang pekan ini di 92.834, sementara mata uang tunggal Euro justru mendekati level tertingginya sepanjang pekan ini, meskipun beberapa pelaku pasar mengharapkan adanya terobosan yang jelas dari pergerakannya dalam kisaran range pekan ini menjelang pidato pembukaan dari Powell.

Sementara itu pergerakan Dollar terhadap mata uang Yen juga melemah hingga ke 105.90, seiring fokus utama Yen akan tertuju pada konferensi pers dari Perdana Menteri Shinzo Abe yang dijadwalkan pada hari Jumat besok di tengah meningkatnya spekulasi terhadap kondisi kesehatan beliau.

Mata uang Yen kemungkinan akan menguat jika Shinzo Abe memutuskan untuk mengundurkan diri, mengingat bahwa persepsi mengenai pelonggaran kebijakan moneter yang agresif dengan kerjasama yang erat antara pemerintah dan bank sentral, yang biasa disebut sebagai Abenomics, telah menjadi trade mark bagi Abe dalam menerapkan kebijakannya.

Sedangkan untuk mata uang Yuan Cina terpantau tetap berada di level kuatnya sejak bulan Januari lalu, setelah pejabat AS dan Cina telah menegaskan kembali komitmen mereka terhadap kesepakatan perdagangan fase 1 di awal pekan ini, meskipun masih tersisa ketegangan dalam hubungan bilateral kedua negara tersebut.(WD)

Related posts