Greenback Melemah Seiring Upaya Meredam Ketegangan AS-Cina

Pada sesi awal perdagangan waktu Eropa siang hari ini, pergerakan US Dollar terpantau melemah, seiring salah seorang pejabat senior di pemerintahan Trump mencoba untuk meredakan ketegangan antara AS dan Cina terkait penanganan pandemi Covid-19.

Pada Senin waktu AS, Wakil Penasihat Keamanan Nasional, Matthew Pottinger mencoba mengambil sikap yang lebih damai setelah beberapa permusuhan baru-baru ini terhadap Beijing dari anggota lain dari pemerintah AS, termasuk Presiden sendiri, dan bersikeras bahwa Amerika Serikat tidak mempertimbangkan “langkah-langkah hukuman” terhadap China atas penanganan pandemi ini.

Selama akhir pekan kemarin, sikap agresif dari pemerintah AS telah menimbulkan kekhawatiran mengenai perang dagang dalam bentuk lain antara dua negara ekonomi terkuat di dunia, sehingga menimbulkan aliran greenback sebagai aset berlindung yang aman.

Selain itu perlu juga diperhatikan pergerakan mata uang tunggal Euro, mengingat keputusan pengadilan konstitusi Jerman mengenai legalitas program pembelian sektor publik dari European Central Bank.

Diharapkan bahwa pengadilan Jerman tidak akan memutuskan bahwa langkah tersebut adalah sesuatu yang ilegal, selain karena pengadilan Eropa telah memutuskan untuk mendukung langkah tersebut, hal ini juga dikarenakan keputusan ilegal akan membatasi partisipasi Deutsche Bundesbank dalam program pembelian obligasi dari Bank Sentral Eropa.

David Marsh selaku ketua forum bank sentral independen OMFIF, dalam sebuah catatanya mengatakan bahwa hal ini bisa merusak kohesi Uni Eropa dalam menghadapi kontraksi ekonomi terburuk, sehingga membayangi upaya untuk menyalurkan dana kepada anggota European Monetary Union dari wilayah Eropa Selatan seperti Italia yang cenderung lebih lemah dari sisi keuangan dibandingkan negara-negara Eropa di bagian barat.

Sementara itu mata uang Aussie mencatat keuntungan terhadap greenback setelah dirilisnya risalah pertemuan kebijakan dari RBA.

Dalam risalah disebutkan bahwa Reserve Bank of Australia telah mempertahankan suku bunga pada rekor terendahnya di 0.25%, karena Australia terus berjuang menghadapi dampak virus corona terhadap ekonominya, namun ada sebagian kalangan yang mengharapkan RBA untuk menurunkan suku bunga sekali lagi menjadi 0.15%.

Philip Lowe selaku Gubernur RBA telah memperingatkan bahwa Australia saat ini sedang melalui periode yang sangat sulit, seraya mengatakan bahwa dalam skenario dasar dari bank sentral, tingkat penangguran akan mencapai 10%, sementara laju produktivitas juga akan mengalami penurunan di kisaran tersebut, menyusul perkiraan produk domestik bruto yang akan berkontraksi sebesar 10% seperti yang disampaikan oleh pemerintah Australia sebelumnya.(WD)

Related posts