Greenback Menekan Risk Currencies

Lonjakan kasus infeksi virus corona serta diberlakukannya kembali pembatasan untuk menghentikan penyebaran virus telah membuat para investor merasa khawatir terhadap pemulihan ekonomi global dapat berjalan lebih lambat, sehingga hal inilah yang membuat US Dollar menguat dan menekan mata uang berisiko.

Pemberlakuan kebijakan pembatasan telah diterapkan oleh pemerintah negara bagian California yang mengikuti langkah serupa yang diambil oleh pemerintah negara bagian Texas dan Florida, di saat kasus infeksi virus mengalami lonjakan ke tingkat rekornya setiap hari, sehingga hal inilah yang mengurungkan niat negara bagian Washington dan kota San Fransisco untuk membuka aktifitasnya kembali.

Hal inilah yang meningkatkan minat pasar terhadap mata uang US Dollar yang dianggap sebagai mata uang safe haven seiring likuiditasnya yang tinggi, dan sekaligus memberikan tekanan terhadap mata uang berisiko seperti Aussie dan Dollar Selandia Baru yang bergerak ke kisaran yang lebih rendah.

Analis mata uangĀ  di Commonwealth Bank of Australia, Joe Capurso mengatakan bahwa resesi double-dip yang dialami oleh AS kemungkinan terjadi jika pembatasan yang lebih luas diberlakukan kembali sehingga mengarah kepada kondisi mata uang US Dollar yang mengalami lonjakan.

Kebijakan pembatasan baru juga telah diberlakukan di beberapa bagian di kota Beijing dan Lisbon serta dua kota di Jerman bagian barat, sementara Argentina telah memperpanjang dan memperketat kebijakan lockdown di sekitaran Buenos Aires menyusul peningkatan kasus infeksi secara tajam.

Sementara itu mata uang Poundsterling bergerak sedikit diatas level terendahnya dalam satu bulan, yang dicapai pada sesi perdagangan Jumat lalu, di tengah keraguan baru mengenai apakah pemerintah Inggris mampu untuk menyelesaikan pakta perdagangan dengan Uni Eropa pasca Brexit.

Sedangkan mata uang Euro berupaya untuk bergerak di kisaran yang lebih baik terhadap US Dollar, seiring harapan Uni Eropa terhadap pandemi virus serta pemulihan regional yang lebih cepat untuk mendorong kenaikan mata uang tunggal tersebut.

Dalam sebuah catatan dari analis dari bank ANZ, disebutkan bahwa mengingat tingginya sensitivitas di kawasan Euro terhadap perdagangan global, pihaknya memperkirakan terjadinya lebih banyak ketidakpastian global seputar pandemi untuk menjaga kondisi upside capped.(WD)

Related posts