Greenback Tergerus Oleh Kondisi Geopolitik Timur Tengah

Mata uang safe haven Yen Jepang menjadi pemimpin safe haven lainnya untuk bergerak lebih tinggi di sesi perdagangan hari ini, setelah terjadinya serangan udara AS di bandara Baghdad yang menwaskan seorang pejabat militer senior Iran, sehingga memicu ketegangan di Timur Tengah sekaligus memberikan dorongan bagi harga minyak.

Selain itu obligasi AS dan komoditas Emas juga mengalami reli setelah salah seorang jur bicara dari milisi Irak mengatakan kepada Reuters bahwa Mayor Jendral Iran Qaseem Soleimani dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis tewas terbunuh dalam serangan tersebut.

Terkait serangan tersebut pihak Pentagon telah mengkonfirmasi serangan tersebut, dan mengatakan bahwa Soleimani secara aktif telah mengembangkan rencana untuk menyerang warga AS di Irak dan Timur Tengah.

Jeffrey Halley, analis pasar senior untuk Asia Pasifik di broker OANDA, mengatakan bahwa saat ini pasar baru memasuki hari ketiga di tahun 2020 ini, dan ketidakpastian geopolitik telah menghiasi pergerakan pasar, dan dirinya berkeinginan kuat untuk tidak melihat adanya serangan balasan dari Iran sembari memfokuskan kepada instalasi minyak dan tanker.

Namun demikian sepertinya para investor pasar minyak sangat antusias dengan kenaikan harga minyak yang melonjak hingga $2 per barrel. Setelah adanya laporan serangan udara tersebut, mata uang US Dollar melemah hingga 0.4% terhadap Yen jepang, dan mencapai level terendahnya sejak awal November lalu.

Mata uang Yen sering digunakan sebagai pengalihan investasi yang aman selama terjadinya ketegangan global, mengingat status Jepang sebagai negara kreditor terbedar di dunia. Meskipun pasar Tokyo ditutup terkait libur selama 4 hari.

Sebelumnya US Dollar telah menemukan dukungan di sesi perdagangan semalam, setelah berita ekonomi yang suram dari kawasan Eropa dan Inggris telah menimbulkan tekanan terhadap mata uang Poundsterling dan Euro.

Data ekonomi terakhir menyebutkan bahwa produksi pabrik Inggris turun di bulan Desember hingga ke tingkat tercepatnya sejak 2012 silam, sementara sektor manufaktur Jerman tetap dalam kondisi terkontraksi.

Sementara data klaim pengangguran AS yang dirilis semalam menunjukkan penurunan yang lebih rendah selama pekan lalu, yang memberikan sinyal positif bagi sektor tenaga kerja AS.

Kekuatan lapangan kerja AS menjadi alasan utama bagi Federal Reserve yang telah memberikan isyarat tidak akan ada lagi kebijakan penurunan suku bunga yang diperlukan dalam siklus ini, sehingga pasar mengurangi harapan terhadap pelonggaran kebijakan lebih lanjut.

Menjelang pidato dari sejumlah pejabat The Fed nanti malam, para analis memperkirakan bahwa mereka akan tetap optimis terhadap prospek ekonomi sekaligus mengulangi prospek suku bunga yang stabil.(WD)

Related posts