Harada : BoJ Memiliki Ruang Untuk Membeli ETF

Salah seorang anggota panel pemerintah yang juga merupakan pakar masalah fungsi pasar Jepang, Kimie Harada mengatakan bahwa Bank of Japan memiliki ruang untuk lebih kreatif dalam melakukan pembelian ETF, guna mengurangi distorsi pasar yang disebabkan oleh program pembelian aset dari bank sentral.

Bank of Japan telah menerapkan kebijakan pembelian ETF selama satu dekade terakhir, sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan pertumbuhan sekaligus menarik Jepang keluar dari kondisi deflasi, sehingga mereka terus meningkatkan laju pembelian untuk mencegah kemerosotan harga saham yang bisa merusak kepercayaan sektor rumah tangga dan bisnis sehingga mencegah kedua sektor tersebut meningkatkan pengeluarannya.

Dalam wawancaranya dengan Reuters, Harada mengatakan bahwa pembelian ETF yang dibuat khusus dari standar yang ada akan memungkinkan bank sentral Jepang untuk menghapus saham-saham berkapitalisasi kecil dan rendah dari target pembeliannya untuk mencegah pengaruh yang sangat besar dari pergerakan harga yang terdistorsi.

Selain itu hal ini dapat memangkas biaya yang dibayarkan oleh BoJ kepada pihak perusahaan aset manajemen, dikarenakan harganya yang lebih murah untuk ETF yang dibuat khusus dibandingkan jenis standar, disaat ukuran transaksinya dalam jumlah yang besar.

Lebih lanjut anggota panel regulator perbankan Jepang yang juga profesor di Universitas Chuo tersebut mengatakan bahwa bank sentral mungkin akan menemukan ide yang layak untuk dipertimbangkan di saat melakukan peninjauan alat kebijakannya di bulan Maret, yang mana sudah jelas bahwa untuk beberapa waktu kedepan pembelian ETF dari bank sentral tidak akan bersifat berkelanjutan, seiring BoJ yang tidak sadar bahwa mereka telah menjadi investor besar di pasar saham Jepang yang tengah bermasalah.

Saat ini Bank of Japan diketahui memegang aset hingga senilai 47 triliun Yen atau setara dengan $ 444 milliar dan menjadi pemilik saham Jepang terbesar, dan mereka juga berjanji untuk membeli ETF dengan kecepatan tahunan hingga sebesar antara 6 triliun Yen hingga 12 triliun Yen, yang menjadi sebuah komitmen yang memaksanya untuk terus melakukan pembelian, bahkan disaat harga saham sedang booming.

Para pembuat kebijakan bank sentral Jepang mengatakan bahwa tinjauan kebijakan di bulan Maret bertujuan untuk membuat program pembelian ETF menjadi lebih gesit, sehingga dapat membeli dalam jumlah yang lebih kecil atau bahkan berhenti membeli di saat pasar dalam kondisi yang tenang.

Harada juga menilai bahwa dominasi BoJ membuat pasar saham Jepang menjadi kurang menarik bagi investor asing, dan dalam jangka panjang, BOJ harus menghapus ETF dari neracanya, seperti dengan memindahkannya ke entitas terpisah atau menjualnya ke dana negara yang direncanakan untuk membantu sektor pendidikan tinggi.

Beliau menilai bahwa sangat berbahaya bagi BoJ untuk menjaga neracanya sarat dengan aset berisiko, dan melakukan pembelian ETF adalah kebijakan yang sangat tidak biasa dengan tingkat kerugian yang besar, maka dari itu tidak ada bank sentral di dunia yang menerapkan kebijakan seperti itu.(WD)

Related posts