Harga Konsumen Tokyo Turun Dalam Laju Tercepat

Indeks harga konsumen di Tokyo dilaporkan mengalami penurunan di laju tercepatnya dalam satu dekade terakhirnya, sementara pasar pekerjaan dan penjualan ritel Jepang masih tetap dalam kondisi lemah, sehingga meningkatkan risiko kembalinya fase deflasi akibat pandemi Covid-19.

Ekonomi terbesar ketiga di dunia itu pulih dalam tiga bulan hingga September dari kontraksi pascaperang terburuk, tetapi gelombang ketiga infeksi virus korona mengancam kebangkitan ekonomi.

Bank of Japan mengumumkan rencananya pada pekan lalu, untuk memeriksa cara-cara yang lebih efektif untuk mencapai target inflasi di 2% yang sulit dipahami hingga saat ini.

Data Core CPI Tokyo untuk barang modal Jepang, termasuk produk minyak namun tidak mencantumkan makanan segar, dirilis turun sebesar 0.9% di bulan Desember dari periode yang sama di tahun sebelumnya sehingga mencatat penurunan paling tajam sejak September 2010 silam.

Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan penurunan 0.8% dari median ekonom dan juga lebih rendah dari penurunan 0.7% di bulan November, sekaligus mencatat penurunan di bulan Desember tercepat sejak satu dekade lalu saat harga konsumen inti mengalami penurunan hingga 1.0%.

Terkait akan data ini kepala ekonom di Norinchukin Research Institute, Takeshi Minami mengatakan bahwa ada kemungkinan ekonomi Jepang kembali mengalami deflasi karena pandemi virus corona, seiring permintaan swasta yang lemah karena warga Jepang, terutama warga usia lanjut, harus tinggal di rumah agar tidak terinfeksi sehingga sulit untuk menaikkan harga.

Sementara itu tingkat pengangguran Jepang yang disesuaikan secara musiman turun menjadi 2.9%, lebih baik dari perkiraan median 3.1% setelah sebelumnya dirilis di 3.1% pada bulan Oktober lalu.

Tingkat rasio pekerjaan per pelamar dirilis di angka 1.06, naik dari 1.04 di bulan sebelumnya, namun masih mendekati level terendahnya dalam tujuh tahun di 1.03 pada September 2013.

Pandemi tetap menjadi hambatan pada belanja konsumen, dengan lonjakan baru dalam infeksi yang meningkatkan risiko baru bagi ekonomi yang melemah.

Sedangkan penjualan ritel Jepang tumbuh moderat di angka 0.7% di bulan November dari tahun sebelumnya, yang merupakan kenaikan kedua kalinya berturut-turut namun masih lebih lambat dari lonjakan 6.4% di bulan Oktober dan masih lebih rendah dari perkiraan kenaikan rata-rata pasar di angka 1.7%.(WD)

Related posts