Header Ads

Harga MInyak Cenderung Stabil Meskipun Masih Dihiasi Aksi Jual

Harga minyak mentah global cenderung bergerak stabil di sesi perdagangan awal pekan ini, seiring meredanya kakhawatiran terhadap konflik AS dengan Iran, sehingga saat ini para investor mengalihkan fokus perhatian mereka terhadap penandatanganan kesepakatan awal perdagangan AS-Cina di pekan ini yang berpotensi mendorong laju pertumbuhan dan permintaan ekonomi global.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate hingga saat ini mencatat penurunan sebesar 0.17% dan berada di kisaran $59.02 per barrel saat memasuki sesi perdagangan waktu Eropa.

Sebelumnya harga minyak mengalami lonjakan ke level tertingginya dalam hampir empat bulan terakhir, pasca serangan pesawat tak berawak milik AS yang menewaskan seorang komandan Iran dan pihak Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik terhadap pangkalan militer AS di Irak.

Namun demikian harga minyak kembali jatuh saat pihak Washington dan Teheran menyatakan bahwa keduanya mundur dari potensi terjadinya konflik secara langsung.

Salah seorang analis komoditas di Samsung Futures di Seoul, Kim Kwang-rae mengatakan bahwa kemungkinan terjadinya perang antara AS dan Iran telah menghilang dan pekan ini pelaksanaan penandatanganan kesepakatan perdagangan AS-Cina fase pertama, berpotensi mampu memberikan dukungan bagi harga minyak karena ekspektasi untuk permintaan minyak mentah yang lebih tinggi.

Penurunan harga minyak mentah cenderung memberikan cerminan adanya pengetatan persediaan minyak global dan penyempitan nilai menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak telah surut.

Virendra Chauhan selaku analis minyak di Energy Aspects di Singapura, mengatakan bahwa fundamental untuk minyak berjangka West Texas Intermediate masih lemah untuk beberapa bulan mendatang dan stok diperkirakan akan mengalami peningkatan di terminal persediaan minyak di Cushing Oklahoma AS, sementara untuk jenis Brent Crude Oil yang merupakan indikator yang lebih luas dari pasar minyak mentah global, merupakan kombinasi antara penawaran dan permintaan.

Lebih lanjut Chauhan menyatakan bahwa sentimen yang terjadi di pasar nampaknya telah merubah sudut pandang terhadap perang perdagangan, sementara sejumlah aksi beli yang terjadi memiliki keterkaitan terhadap aktifitas industri dan stimulus fiskal awal yang bisa menggambarkan permintaan yang terjadi karena adanya kenaikan yang mengejutkan.(WD)

Related posts