Header Ads

Harga Minyak Jatuh Akibat Lonjakan Pasokan Minyak AS

Harga minyak merosot dari level tertingginya sepanjang tahun, akibat melonjaknya pasokan minyak AS serta melambatnya pertumbuhan ekonomi yang menahan dukungan yang timbul dari pemangkasan pasokan minyak yang dipimpin oleh OPEC dan dampak dari sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate sempat mencapai level tertingginya di sesi perdagangan waktu Asia pagi tadi, namun hingga berita ini dibuat minyak mentah kembali tutun hingga 0.27% menjelang penutupan sesi pertama perdagangan Eropa.

Sebelumnya harga minyak mendapatkan dukungan dari sentimen pasar terkait pemangkasan pasokan minyak yang dipimpin oleh kelompok negara produsen minyak OPEC. Para negara anggota OPEC yang dipimpin oleh negara pengekspor minyak utama Arab Saudi, diperkirakan akan mengurangi pengiriman minyak mentah ke Asia pada bulan Maret mendatang sebagai bagian dari upaya untuk mengetatkan pasar minyak global.

Institusi perbankan Perancis, BNP Paribas dalam sebuah catatannya mengatakan bahwa mereka berasumsi bahwa Arab Saudi akan mengurangi produksi minyak dalam tiga kuartal pertama tahun 2019 ini lebih rendah dari target awal di kisaran 10.31 juta barrel per hari. Dengan pemangkasan tersebut maka BNP menyampaikan perkiraannya bahwa harga minyak akan mengalami kenaikan hingga periode kuartal ketiga tahun ini, hingga minyak jenis WTI akan berada di kisaran $66 per barrel dan Brent akan berada dikisaran rata-rata $73 per barrel.

Penggerak harga minyak utama lainnya adalah sanksi AS terhadap eksportir minyak Iran dan Venezuela. Meskipun ada sanksi dari pihak Washington, namun ekspor minyak mentah Iran tercatat lebih tinggi dari yang diharapkan pada Januari, yang mencatat rata-rata sekitar 1.25 juta barrel per hari.

Namun demikian pemangkasan pasokan minyak oleh OPEC akan mendapatkan tantangan dari lonjakan produksi minyak AS yang mencatat lebih dari 2 juta barrel per harinya di tahun 2018, hingga mencapai rekor 11.9 juta barrel per hari, yang diakibatkan oleh booming produksi shale oil.

BNP Paribas mengatakan melonjaknya output minyak AS akan menyebabkan harga minyak yang lebih rendah menjelang akhir tahun ini. Lebih lanjut disebutkan bahwa pertumbuhan minyak AS yang didukung oleh shale oil, akan menimbulkan ekspor dalam volume yang lebih besar ke pasar internasional, di tengah ekonomi global yang diperkirakan akan mengalami perlambatan yang signifikan.(WD)

Related posts