Header Ads

Harga Minyak Kembali Turun Seiring Aktifitas Pemeliharaan Dan Perbaikan

Pergerakan harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan di sesi perdagangan awal pekan ini, sekaligus memperpanjang kerugian besar di pekan lalu, sehingga mengkhawatirkan para pelaku pasar terhadap potensi perlambatan ekonomi global yang akan membebani pertumbuhan permintaan terhadap minyak di masa depan, sembari mengharapkan kemajuan dalam pembicaraan dagang antara AS-Cina di pekan ini.

Minyak mentah berjangka jenis Brent turun 28 sen saat memasuki sesi perdagangan waktu Eropa, sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate mencatat penurunan hingga 17 sen di sesi yang sama. Suramnya data manufaktur AS dan Cina telah menekan turun minyak berjangka hingga lebih dari 5% saat berakhirnya kontrak perdagangan di pekan lalu, akibat masih berlangsungnya pertikaian perdagangan antara negara-negara ekonomi utama dunia sehingga menghambat laju pertumbuhan global serta meningkatkan risiko terhadap resesi.

Para pejabat AS dan Tiongkok akan bertemu di Washington pada 10-11 Oktober dalam upaya mencapai kesepakatan antar kedua negara yang sangat dinantikan oleh pasar global.

Sementara itu dari sisi pasokan, tekanan terhadap harga minyak juga timbul akibat dimulainya kembali laju produksi minyak mentah Arab Saudi yang lebih cepat dari yang diperkirakan semula, meskipun saat ini ketegangan geopolitik masih menyelimuti kawasan Timur Tengah.

Irak sebagai negara produsen minyak mentah kedua terbesar di antara negara anggota OPEC, tengah menghadapi kerusuhan anti pemerintah yang menjadi tantangan bagi sisi keamanan dan politik di kawasan tersebut akhir-akhir ini.

Ayham Kamel selaku kepala praktik Grup Eurasia untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan dalam sebuah catatan bahwa laju ekspor minyak mentah Irak yang tercatat sebesar 3.43 juta barrel per hari dari terminal minyaknya di Basra, berpotensi mendapatkan gangguan jika ketidakstabilan politik di negara tersebut masih berlangsung selama beberapa minggu kedepan.

Lebih lanjut Kamel mengatakan bahwa setiap gangguan terhadap produksi minyak akan terjadi pada saat Arab Saudi kehilangan sebagian besar kapasitas cadangan energinya.

Hingga saat ini disebutkan bahwa produksi minyak mentah Arab Saudi telah mendekati 9.9 juta barrel per hari, namun belum jelas apakah kapasitasnya akan mampu terpenuhi hingga 11.3 juta barrel per hari setelah fasilitas Abqaiq yang mengalami serangan beberapa waktu lalu telah kehilangan sebagian besar kapasitas cadangan minyaknya.

Selain itu pasokan global juga tengah menghadapi tekanan akibat aktifitas perbaikan dan pemeliharaan fasilitas. Seperti yang terjadi di ladang minyak Buzzard di Laut Utara Britania, yang ditutup untuk pekerjaan perbaikan pipa. Sebagai kontributor utama untuk aliran minyak mentah Forties, Buzzard merupakan salah satu penopang bagi pasokan minyak mentah jenis Brent di masa depan, dan juga merupakan yang terbesar dari lima fasilitas minyak di Laut Utara.

Sementara itu National Oil Corporation milik negara Libya, mengatakan bahwa pada hari minggu kemarin mereka telah menutup ladang minyak Faregh di pelabuhan Zueitina untuk menjalani aktifitas pemeliharaan hingga 14 Oktober mendatangg.(WD)

Related posts