Header Ads

Harga Minyak Melanjutkan Kenaikan Menyusul Pemangkasan Produksi OPEC

Pernyataan OPEC yang mengatakan bahwa mereka telah memangkas pasokan minyak di bulan Januari serta masih diberlakukannya sanksi terhadap ekspor minyak Venezuela, telah memberikan dukungan bagi kenaikan harga minyak mentah di sesi perdagangan hari ini.

Minyak mentah berjangka AS jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di $53.52 per barel, mencatat kenaikan 42 sen atau sekitar 0.8% dari harga penutupan terakhir di perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini juga didukung oleh data dari American Petroleum Institute (API), yang menunjukkan adanya penurunan persediaan minyak mentah AS sebanyak 998 ribu barrel di pekan lalu, menjadi 447.2 juta barrel. Data ini mematahkan perkirakan kenaikan 2.7 juta barrel dari para analis sebelumnya.

Lembaga OPEC yang dipimpin oleh Arab Saudi, sebagai produsen utama minyak dunia secara de-facto, mengatakan bahwa pihaknya telah memangkas produksi mereka hampir 800 ribu barrel per hari di bulan Januari lalu menjadi 30.81 juta barrel per harinya.

Sementara itu permasalahan pasokan di salah satu negara anggota OPEC lainnya, Venezuela telah memberikan dorongan bagi kenaikan, menyusul negara yang terletak di Amerika Selatan tersebut tengah dilanda krisis politik dan ekonomi, seiring pihak Washington yang memberlakukan sanksi terhadap ekspor minyak mentah dari PDVSA sebagai perusahaan energi milik negara tersebut. Saat ini memang terjadi perpecahan politik diantara AS dengan Venezuela, namun diketahui sebelumnya bahwa sejumlah perusahaan penyulingan minyak AS merupakan konsumen terbesar minyak mentah Venezuela.

Negara tersebut telah mencoba untuk mencari pelanggan alternatif di luar AS, khususnya dari kawasan Asia, namun banyak pembeli yang menghindari berurusan dengan PDVSA akibat adanya tekanan dari AS. Akan tetapi sejumlah analis menilai bahwa pasar minyak masih akan mendapatkan pasokan minyak di tengah potensi penurunan laju permintaan akibat dari perlambatan ekonomi global.

Dalam hal ini OPEC menyoroti perkiraan pertumbuhan ekonomi global di tahun ini, yang dipangkas sebesar 0.2 poin persentase menjadi 3.3%. Frank Verrastro, wakil presiden senior untuk Program Energi dan Keamanan Nasional di Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan bahwa pasar minyak saat ini terfokus kepada tingat makro terhadap penawaran yang memadai serta melunaknya laju permintaan, terkait dengan pembicaraan perdagangan AS-Cina serta kekhawatiran perlambatan ekonomi yang semakin meluas.

Hingga saat ini sebagian besar pasokan minyak berasal dari AS, dimana produksinya naik lebih dari 2 juta barrel per hari di tahun lalu sehingga mencapai rekor 11.9 juta barrel per harinya, yang menjadikan AS sebagai produsen minyak terbesar dunia mengalahkan Aran Saudi dan Rusia.

Sementara OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, menahan pasokan produksi minyaknya, AS justru meningkatkan output produksi minyak dan diperkirakan akan naik lebih lanjut, seiring EIA mengatakan bahwa produksi minyak AS diperkirakan akan mencapai 13.2 juta barrel per hari di tahun 2020 mendatang.(WD)

Related posts