Harga Minyak Memperpanjang Penurunannya Di Awal Pekan Ini

Harga komoditas minyak mentah memperpanjang penurunannya lebih dari 2% di sesi perdagangan hari ini, karena penyebaran yang cepat dari virus corona di sejumlah negara di luar Cina yang membuat para investor merasa resah mengenai laju permintaan yang terus mengalami tekanan.

Selain itu saham global juga memperpanjang kerugian karena kekhawatiran tentang dampak virus, menyusul infeksi yang melonjak di Iran, Italia dan Korea Selatan.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate hingga memasuki sesi perdagangan waktu Eropa hari ini telah mencatat penurunan 2.88% terkait kekhawatiran terhadap laju permintaan akan minyak.

Edward Moya selaku analis pasar senior di OANDA mengatakan bahwa kehancuran permintaan minyak mentah kemungkinan akan mengalami peningkatan karena pembatasan perjalanan yang juga kemungkinan akan meningkat karena wabah virus corona yang saat ini telah menjadi ancaman global, sehingga harga minyak akan tetap rentan di sini karena para pedagang energi tidak menetapkanm harga saat virus corona menjadi pandemi.

Lebih lanjut Moya mengatakan bahwa sementara beberapa bagian Cina melihat adanya peningkatan statistik terkait penyebaran virus corona, maka pasar keuangan akan tetap berada di tepi jurang resesi hingga pasar melihat kondisi yang membaik di Iran, Italia, Korea Selatan dan Jepang.

Sementara Stephen Innes yang menjabat sebagai kepala strategi pasar di AxiCorp mengatakan bahwa kita seharusnya tidak meremehkan gangguan ekonomi karena penyebaran virus yang cepat dapat memicu penurunan besar dalam aktifitas bisnis di seluruh dunia dengan proporsi yang belum pernah dihadapi dunia sebelumnya.

Minyak sempat mendapat dukungan setelah pejabat kesehatan setempat di China mengatakan bahwa empat provinsi, yaitu Yunnan, Guangdong, Shanxi dan Guizhou, telah menurunkan langkah-langkah tanggap darurat virus mereka.

Pada hari Minggu kemarin, Presiden Cina Xi Jinping mengatakan bahwa Cina sebagai negara konsumen energi terbesar dunia akan menyesuaikan kebijakan guna membantu melindungi tekanan terhadap ekonomi dari dampak penyebaran virus.

Sedangkan di AS dilaporkan bahwa jumlah rig minyak, yang menjadi indikator produksi di masa depan, mencatat kenaikan dalam tiga minggu berturut-turut, setelah adanya laporan dari Baker Hughes Co yang mengatakan bahwa pihak pengebor menambahkan satu rig pengeboran minyak di pekan lalu, sehingga jumlah total rig pengeboran yang aktif berjumlah 679 unit, yang mencatat angka tertinggi sejak 20 Desember.(WD)

Related posts