Harga Minyak Mencapai Harga Tertingginya dalam Enam Pekan

Harga minyak berjangkan melonjak hingga mencapai harga tertingginya dalam enam pekan di sesi perdagangan hari ini, sekaligus mencatat kenaikan di hari kelimanya di tengah optimisme pasar yang menganggap OPEC dan negara produsen lainnya kemungkinan akan setuju untuk memperpanjang pengurangan produksi dalam upaya untuk mendukung harga.

Minyak mentah AS naik lebih dari 2% di sesi perdagangan awal pekan ini, sementara minyak jenis Brent menutup perdagangan sehari sebelumnya dengan kenaikan 1.7%, menyusul pasar yang bereaksi terhadap penunjukkan oleh putra Raja Salman, Pangeran Abdulaziz bin Salman sebagai menteri energi Arab Saudi pada hari Minggu lalu.

Sebagai anggota lama dari delegasi Saudi untuk OPEC, Pangeran Abdulaziz mengatakan bahwa pilar kebijakan Arab Saudi tidak akan berubah dan kesepakatan global untuk memangkas produksi minyak sebesar 1.2 juta barrel akan diawasi oleh mereka.

Beliau juga menambahkan bahwa apa yang disebut aliansi OPEC+, yang terdiri dari negara-negara anggota OPEC dan non-OPEC termasuk Rusia, sepertinya akan berlangsung dalam jangka panjang. Pada pekan ini akan diadakan pertemuan negara-negara anggota OPEC dan juga negara yang masuk dalam OPEC+ di Abu Dhabi, yang mana hal ini dinilai oleh Stephen Innes selaku ahli strategi pasar Asia Pasifik di AxiTrader, bahwa pertemuan tersebut akan membangkitkan harapan untuk pengurangan kebijakan tambahan mengenai pasokan minyak. Namun, produksi minyak Rusia pada bulan Agustus tercatat melebihi kuota berdasarkan perjanjian OPEC+.

Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA, mengatakan bahwa pasar komoditas minyak perlu melihat adanya kemajuan yang nyata di sektor produksi, bahkan disaat ketika ekonomi global mengalami perlambatan guna mempertahankan laju kenaikannya.

Eksekutif di Konferensi Perminyakan Asia Pasifik tahunan mengatakan pada hari Senin kemarin bahwa mereka memperkirakan harga minyak tahun ini akan ditekan oleh ketidakpastian seputar ekonomi global, perang perdagangan AS-China dan meningkatnya pasokan AS.

Sementara itu di AS, stok cadangan minyak mentah kemungkinan telah jatuh dalam empat pekan berturut-turut di pekan lalu, yang ditunjukkan dalam jajak pendapat Reuters. Dalam jajak pendapat terhadap para analis tersebut, 5 orang analis memperkirakan bahwa rata-rata persediaan minyak mentah akan mengalami penurunan sebanyak 2.6 juta barrel dalam periode sepekan yang berakhir di 6 September lalu.(WD)

Related posts