Harga Minyak Mencatat Kenaikan Tipis

Seiring para investor yang menutup posisi jual mereka di sesi perdagangan hari ini, harga minyak mentah mencatat kenaikan tipis setelah mengalami kerugian dalam tiga sesi sebelumnya, di tengah kekhawatiran yang semakin mendalam terhadap penyebaran virus corona yang semakin meluas dan berpotensi menjadi pandemi global.

Hingga saat ini menjelang dibukanya sesi perdagangan waktu Eropa, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate bergerak 0.32% lebih tinggi dari harga pembukaannya di $50.05 per barrel.

Kekhawatiran pandemi meningkat setelah coronavirus menyebar ke lebih banyak negara, sementara jumlah kematian di Iran akibat infeksi virus tersebut menjadi 16 orang, yang merupakan angka kematian tertinggi di luar Cina serta kondisi yang semakin memburuk di Korea Selatan dan Italia.

Sementara itu Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS menyatakan bahwa warga AS harus bersiap untuk kemungkinan meluasnya penyebaran virus di negara tersebut.

Hidetashi Matsunaga selaku analis di Sunward Trading mengatakan bahwa para investor telah melepas posisi jual mereka setelah minyak WTI turun dibawah level support $50 per barrel, seiring dukungan dari pengurangan output minyak di Libya serta adanya harapan untuk pengurangan produksi tambahan oleh OPEC dan OPEC+ yang juga memberikan dukungan bagi kenaikan harga minyak mentah.

Produksi minyak di Libya telah turun tajam sejak 18 Januari karena blokade pelabuhan dan ladang minyak oleh kelompok-kelompok yang loyal kepada komandan yang berbasis di timur, Khalifa Haftar.

Negara-negara anggota OPEC serta sekutunya termasuk Rusia, yang lebih dikenal sebagai OPEC+, dijadwalkan melakukan pertemuan di Wina Austria pada 5-6 Maret mendatang.

Menteri energi Arab Saudi mengatakan pada hari Selasa bahwa ia yakin OPEC dan para mitranya akan merespons secara bertanggung jawab terhadap penyebaran virus corona.

Akan tetapi kekhawatiran yang berlanjut mengenai virus corona yang menyebar dengan cepat akan menimbulkan kerusakan terhadap ekonomi global dan permintaan minyak yang membebani sentimen investor.

Selain itu Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan bahwa prospek pertumbuhan permintaan minyak global dari International Energy Agency, telah jatuh ke level terendahnya dalam satu dekade, yang mana akan semakin diperparah oleh wabah virus corona saat ini.

Untuk data persediaan minyak mentah AS diperkirakan akan mengalami peningkatan dalam loma minggu berturut-turut, setelah American Petroleum Institute mengatakan bahwa stok minyak mentah AS naik 1.3 juta barrel pada pekan lalu.

Sedangkan saat ini pemerintah AS tengah bersiap untuk menjatuhkan sanksi lebih banyak kepada sektor perminyakan Venezuela, sebagai upaya untuk menekan pembiayaan kepada pemerintahan dibawah pimpinan Presiden Nicolas Maduro.(WD)

Related posts