Header Ads

Harga Minyak Menunggu Petunjuk Lebih Jelas Sebagai Katalis

Setelah mengalamai kenaikan stabil selama sesi perdagangan pekan lalu, harga minyak mentah sedikit berubah menyusul para investor yang menunggu petunjuk yang lebih jelas mengenai prospek kesepakatan perdagangan AS-Cina, dan mengesampingkan kekhawatiran pasar mengenai terus meningkatnya pasokan minyak global. Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate hingga saat ini melemah 0.22%.

Pada sesi perdagangan Jumat pekan lalu, harga minyak berjangka naik hampir 2%, seiring komentar dari para pejabat tinggi AS yang meningkatkan optimisme terhadap kesepakatan perdagangan AS-Cina, namun kekhawatiran terhadap meningkatnya pasokan minyak mentah berpotensi membatasi kenaikan harga minyak.

Trade war yang terjadi selama 16 bulan terakhir antara dua negara ekonomi terbesar dunia yang sekaligus sebagai konsumen minyak terbesar, telah memperlambat laju pertumbuhan global sehingga mendorong para analis untuk menurunkan perkiraan permintaan minyak dan juga meningkatkan kekhawatiran bahwa kelebihan pasokan dapat berkembang di tahun 2020 mendatang.

Margaret Yang selaku analis pasar di CMC Markets menilai bahwa dalam jangka pendek, pembicaraan perdagangan AS-Cina dan pertemuan OPEC di bulan Desember, merupakan dua event besar yang sangat dinantikan oleh para pelaku pasar komoditas minyak.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengatakan pada bahwa pihaknya memperkirakan permintaan minyak dari negara anggotanya akan jatuh pada tahun 2020. Hal inilah yang mendukung pandangan dari para pelaku pasar bahwa OPEC dan kelompok negara produsen lainnya, yang saat ini dikenal sebagai OPEC+, untuk tetap mempertahankan kebijakan pembatasan produksi yang diperkenalkan untuk mengatasi kelebihan pasokan minyak global.

OPEC dan sekutunya diharapkan untuk membahas kebijakan output pada pertemuan 5-6 Desember di Wina. Kesepakatan produksi yang ada berjalan hingga Maret.

Sementara itu laporan bulanan yang dikeluarkan oleh International Energy Agency (IEA) telah memberikan tekanan terhadap harga minyak, setelah memperkirakan pertumbuhan pasokan dari negara non-OPEC akan mengalami peningkatan menjadi 2.3 juta barrel per hari, dengan mengutip tingkat produksi dari AS, Brasil, Norwegia dan Guyana.(WD)

Related posts