Header Ads

Harga Minyak Naik Didukung Pemangkasan Produksi OPEC

Harga minyak terpantau naik di sesi perdagangan hari ini, di tengah pengurangan pasokan minyak dunia yang dipimpin oleh OPEC serta ditambah sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela. Kenaikan ini terjadi meskipun para analis memperkirakan bahwa produksi minyak AS akan mengalami lonjakan serta semakin besarnya kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global yang berpotensi mempengaruhi laju permintaan terhadap produk minyak mentah.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate hingga saat ini telah mencatat kenaikan 0.34% hingga memasuki sesi perdagangan Eropa hari ini. Kenaikan ini juga ditopang oleh ditutupnya bagian dari jaringan pipa pengiriman keystone yang membawa minyak Kanada ke AS.

Dengan adanya pengurangan produksi secara sukarela dari negara-negara produsen minyak anggota OPEC serta ditambah dengan sanksi AS terhadap ekspor minyak dari Iran dan Venezuela, telah menciptakan pasar minyak mentah yang semakin ketat.

Dalam sebuah catatan mingguannya, institusi perbankan JPMorgan mengatakan bahwa pihaknya percaya bahwa harga minyak saat ini tidak memperhitungkan risiko dari sisi penawaran, seiring fokus pasar yang tertuju kepada kelanjutan pembicaraan perdagangan AS-Cina, sehingga mengabaikan faktor geopolitik dari Venezuela.

Lebih lanjut disebutkan bahwa jika pembicaraan perdagangan AS-Cina memberikan hasil yang positif, maka otomatis pasar komoditas minyak akan mengalihkan perhatiannya dari kekhawatiran terhadap ekonomi makro yang membawa dampak kepada laju permintaan minyak kepada dampak dari risiko geopolitik yang membawa dampak kepada pasokan minyak secara langsung.

Namun demikian laju pasokan minyak AS yang terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan serta potensi perlambatan ekonomi di tahun, nampaknya akan menjadi hambatan tersendiri bagi laju harga minyak. Morgan Stanley mengatakan bahwa lonjakan produksi minyak AS, yang cenderung berkualitas rendah dan terus naik lebih dari 2 juta barrel per hari di tahun lalu, telah mengakibatkan berlebihannya produksi bensin di negara tersebut.(WD)

Related posts