Harga Minyak Naik Dipicu Berkurangnya Aktivitas Rig Dan Sanksi Terhadap Ekspor Iran

Harga minyak kembali naik di sesi perdagangan awal pekan ini seiring terhentinya aktivitas pengeboran minyak AS serta ditambah para pelaku pasar komoditas minyak yang tengah mengamati kondisi pasca sanksi Washington terhadap ekspor minyak mentah Iran pada November mendatang.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate terpantau naik 44 sen atau 0.55% saat berita ini dibuat. Perusahaan jasa energi asal AS, Baker Hughes mengatakan bahwa perusahaan energi AS telah memangkas aktivitas dua rig pengeboran minyak pada pekan lalu, sehingga total rig yang beroperasi menjadi 860 unit. Setelah mengalami pemulihan pada tahun 2016 silam, jumlah aktivitas rig pengeboran AS mengalami stagnansi sejak bulan Mei lalu, di tengah fluktuasi tinggi di harga minyak mentah.

Selain itu sanksi AS terhadap Iran turut menjadi pendorong bagi kenaikan harga minyak. Salah seorang konsultan energi di FGE mengatakan bahwa sejumlah pelanggan utama Iran seperti India, Jepang dan Korea Selatan telah memangkas permintaan mereka terhadap minyak mentah dari Iran. Pihak Washington telah memberikan tekanan terhadap sejumlah negara untuk masuk barisan dan memangkas jumlah impor minyak dari Iran sekaligus juga mendesak negara produsen minyak lainnya untuk meningkatkan ouput produksi minyaknya agar tidak menciptakan lonjakan harga yang terlalu tinggi.

Dengan kesemuanya itu maka prospek pasar minyak akan semakin ketat. Edward Bell, analis komoditas di bank Emirat NBD, mengatakan bahwa sikap sebagian besar investor telah berubah menjadi positif kembali terhadap kondisi harga minyak mentah. Akan tetapi salah seorang konsultan di FGW memberikan peringatan bahwa trade war dan kebijakan kenaikan suku bunga The Fed, dinilai dapat menimbulkan masalah bagi pasar di negara berkembang yang berpotensi mendorong pertumbuhan permintaan terhadap minyak.(WD)

Related posts