Header Ads

Harga MInyak Naik Menyusul Laporan Penurunan Pasokan Minyak AS

Harga minyak mentah dunia kembali mencatat kenaikan di sesi perdagangan hari ini menyusul adanya laporan penurunan persediaan minyak mentah AS serta sanksi terhadap Iran yang meningkatkan ekspektasi adanya pengetatan pasokan minyak dunia. Sementara itu salah satu negara produsen minyak mentah, Rusia telah mengeluarkan peringatan mengenai rapuhnya pasar minyak mentah dunia saat ini. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate tercatat naik 0.9% atau sekitar 59 sen di kisaran $69.84 per barrel.

William O’Loughlin, analis investasi di Rivkin Securities Australia, mengatakan bahwa kenaikan harga minyak sebagian besar dipicu oleh data persediaan minyak AS yang menunjukkan penyusutan besar di persediaannya. American Petroleum Institute merilis laporan mengenai stok minyak AS yang turun 8.6 juta barrel dalam sepekan yang berakhir 7 September lalu, menjadi 395.9 juta barrel. Sedangkan data resmi dari pemerintah AS yang akan dipublikasikan oleh Energy Information Administration baru akan dirilis pada malam hari nanti.

Sebelumnya EIA memperkirakan bahwa output minyak AS akan mengalami peningkatan sebanyak 840 ribu barrel per harinya di periode antara 2018 hingga 2019 menjadi 11.5 juta barrel per hari, yang mana angka tersebut lebih rendah dari perkiraan kenaikan 1.02 juta barrel per hari menjadi 11.7 juta barrel per hari sebelumnya. Saat ini perhatian para pedagang akan tertuju kepada dampak sanksi AS terhadap Iran yang akan menargetkan ekspor minyaknya pada November mendatang.

Di luar itu semua, Menteri Energi Rusia, Alexander Novak mengatakan bahwa saat ini tengah terjadi ketidakpastian di pasar yang sangat besar, yang mana sejumlah negara-negara yang membeli hampir 2 juta barrel per hari minyak mentah Iran akan bertindak terhadap sanksi AS terhadap negara tersebut. Lebih lanjut Novak menilai bahwa saat ini pasar minyak global tengah rapuh akibat dari risiko geopolitik serta gangguan terhadap pasokan minyak mentah global. Hal ini terkait dengan adanya fakta bahwa tidak semua negara berhasil mengembalikan pasar dan tingkat produksi minyak mereka, menyusul penurunan produksi minyak di Meksiko dan Venezuela. Akan tetapi Novak berpendapat bahwa Rusia mampu meningkatkan outputnya apabila pasar mengalami overheat dan lonjakan harga yang signifikan.(WD)

Related posts