Harga Minyak Naik Seiring Pasar Yang Semakin Ketat

Harga minyak kembali naik di sesi perdagangan hari ini seiring pasar yang semakin ketat, di tengah penurunan produksi oleh negara-negara anggota OPEC. Akan tetapi lonjakan pasokan minyak AS serta kekhawatiran perlambatan ekonomi global, menjadi hambatan terhadap laju kenaikan lebih lanjut.

Minyak mentah berjangka AS jenis West Texas Intermediate mencatat kenaikan 29 sen atau sekitar 0.5% hingga memasuki sesi perdagangan waktu Eropa siang ini. Ekspor minyak di Venezuela anjlok hingga 40% menjadi 920 ribu barrel per hari sejak pemerintah AS menjatuhkan sanksi terhadap industri perminyakan negara tersebut pada akhir Januari lalu.

Penurunan laju ekspor minyak Venezuela ini terjadi ketika OPEC, memimpin upaya untuk menaikkan harga minyak global dengan menahan sekitar 1.2 juta barrel per harinya, dan sebagai anggotanya Venezuela juga harus mematuhi kebijakan tersebut meskipun dampaknya sangat besar bagi laju pertumbuhan ekonominya karena minyak menjadi sumber utama bagi pendapatan Venezuela.

RBC Capital Markets Kanada dalam catatan penelitian di pasar minyak, mengatakan bahwa pasar minyak global nampak lebih ketat dibandingkan langkah antisipasi para investor minyak di tahun ini, namun hasil produksi yang menumpuk tentunya akan menjadi permasalahan bagi harga minyak itu sendiri. Meskipun demikian masih ada sedikit tanda-tanda yang mengarah ke pasar dengan lebih banyak pasokan di tahun ini.

Departemen Energi AS mengatakan pada Kamis kemarin, bahwa pihaknya menawarkan hingga 6 juta barrel minyak mentah dari cadangan darurat nasional, untuk mengumpulkan dana yang akan dipakai untuk memodernisasi cadangan minyak strategis AS.

Sementara di sisi permintaan, sebuah jajak pendapat dari Reuters menunjukkan bahwa para analis telah memperkirakan potensi perlambatan permintaan bahan bakar global di tahun ini, di tengah semakin meluasnya perlambatan ekonomi global.

Benjamin Lu, analis komoditas di Phillip Futures, mengatakan bahwa lemahnya ekonomi akan menjadi hambatan eksponensial di pasar minyak mentah berjangka di tengah semakin kuatnya tekanan bearish terhadap laju permintaan minyak global.

Indikator pelemahan permintaan minyak dapat dirasakan di seluruh wilayah, seperti aktifitas pabrik di Cina yang terus turun dalam tiga bulan terakhir secara beruntun, laju ekspor Cina yang juga melemah akibat turunnya tingkat pesanan industri, serta ekspor Korea Selatan yang kembali mengalami kontraksi di laju paling tajam dalam hampir tiga tahun terkahir di bulan lalu. Akan tetapi tingkat konsumsi bahan bakar di negara berkembang di Asia, berpotensi menjadi pendorong utama bagi tingkat permintaan minyak global.(WD)

Related posts