Harga Minyak Rebound Hingga Sekitar 4% Di Sesi Eropa

Harga minyak mengalami lonjakan sekitar 4% di sesi perdagangan waktu Eropa pada hari ini, setelah sebelumnya mengalami penurunan intraday terbesarnya dalam hampir 30 tahun terakhir, seiring para investor tengah mengamati kemungkinan stimulus ekonomi, meskipun perang harga yang masih membebani sentimen pasar.

Pada awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dirinya akan mengambil langkah besar untuk menyeimbangkan ekonomi AS terhadap dampak penyebaran wabah virus corona.

Sementara pemerintah Jepang berencana untuk menghabiskan lebih dari $4 milliar dalam paket langkah kebijakan kedua untuk mengatasi virus tersebut.

Hingga saat ini harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate kembali berada di atas $33 per barrel.

Volume perdagangan di bulan depan untuk kedua kontrak mencapai rekor tertinggi di sesi sebelumnya setelah tiga tahun kerjasama antara Arab Saudi dan Rusia dan produsen minyak utama lainnya untuk membatasi pasokan jatuh pada hari Jumat, memicu perang harga untuk pangsa pasar.

Chief Executive Officer Saudi Aramco, Amin Nasser mengatakan bahwa sebagai negara eksportir minyak terbesar, Arab Saudi berencana untuk memasok hingga 12.3 juta barrel per hari di bulan April mendatang, jauh di atas level saat ini di 9.7 juta barrel per hari.

Lebih lanjut Nasser mengatakan kepada Reuters bahwa pasokan minyak mentah di bulan April mendatang akan bertambah sebanyak 300 ribu barrel per hari di atas kapasitas maksimum lanjutan dari Aramco menjadi 12 juta barrel per hari.

Sementara menteri perminyakan Rusia Alexander Novak mengatakan bahwa dirinya tidak mengesampingkan langkah-langkah bersama OPEC untuk menstabilkan pasar, seraya menambahkan bahwa pertemuan OPEC+ berikutnya direncanakan akan berlangsung di antara bulan Mei-Juni.

Analis RBC dalam sebuah catatannya mengatakan bahwa perang harga dan pandemi bukanlah hal baru bagi pasar komoditas, namun keduanya terjadi secara bersamaan, yang mana hal ini belum pernah terjadi.

Tindakan semacam itu akan menguji mekanisme keseimbangan pasar tanpa adanya hambatan OPEC, yang mana ini merupakan suatu mekanisme yang belum diuji sejak booming shale oil AS masih dalam masa pertumbuhan.

Selain itu sentimen juga terangkat setelah Presiden Cina Xi Jinping mengunjungi Wuhan, sebagai kota pusat penyebaran wabah koronavirus untuk pertama kalinya sejak epidemi dimulai, dan di saat penyebaran virus di daratan Tiongkok melambat dengan tajam.

Kenaikan harga minyak mentah juga mendapatkan dukungan dari harapan terhadap penyelesaian perang harga dan potensi penurunan produksi AS, meskipun analis memperingatkan kenaikan harga mungkin hanya bersifat sementara karena permintaan terhadap minyak terus mengalami pukulan oleh wabah virus yang telah menyebar ke luar Cina dan mendorong Italia untuk menerapkan kebijakan isolasi dalam skala nasional.(WD)

Related posts