Header Ads

Harga Minyak Stabil Meski Ada Hambatan Pasokan Minyak Di Libya

oilHarga komoditas minyak kembali stabil setelah sebelumnya sempat menyentuh $75 per barrel, kemudian kembali jatuh tajam di pertengahan sesi perdagangan kemarin. US Benchmark menembus ambang batas seiring kekhawatiran pasar yang semakin besar mengenai kekurangan minyak menyusul hambatan yang menimpa pasokan minyak di Libya dan Kanada. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate naik ke level tertinggi sejak November 2014 di kisaran $75.27 per barrel, namun kemudian kembali tergelincir ke titik terendahnya di $72.73 per barrel dan ditutup di kisaran $74.62 per barrel. Kenaikan harga minyak pagi ini didukung oleh adanya gangguan pasokan di fasilitas utama minyak Kanada serta ditambah oleh adanya kekhawatiran mengenai ekspor minyak mentah dari Libya. Pada hari Selasa kemarin, Libya mengumumkan adanya Force Majeure terhadap ekspor minyak mereka dari dua pelabuhan pengiriman utama, Zueitina dan Hariga, yang mampu memenuhi pasokan hingga 850 ribu barrel per hari. Force Majeure ini datang dari adanya perselisihan antara faksi-faksi politik yang bersaing terhadap klaim ekspor minyak Libya. Para analis merujuk kepada sebuah laporan dari lembaga media Arab Saudi, yang mengatakan bahwa Dewan Menteri Kerajaan Arab Saudi, yang dipimpin oleh Raja Salman bin Abdulaziz, siap untuk mengerahkan kapasitas cadangan minyak negara untuk menambah lebih banyak pasokan minyak ke pasar komoditas. Hal ini seiring permintaan Presiden Donald Trump yang telah meminta Raja Salman untuk meningkatkan produksi minyaknya sebanyak 2 juta barrel per hari. Sebelumnya 14 negara anggota OPEC, mencapai kesepakatan dengan Rusia dan sejumlah negara eksportir di luar OPEC lainnya, untuk meningkatkan produksi minyaknya hingga sekitar 1 juta barrel per hari. Sebuah survei Reuters melaporkan bahwa OPEC telah memompa sekitar 32.32 juta barrel per hari selama bulan Juni, yang mana angka ini menunjukkan kenaikan sekitar 320 ribu barrel per hari dibandingkan bulan Mei sebelumnya. Sementara itu Morgan Stanley justru berpandangan sebaliknya, mereka memperkirakan bahwa pasar akan mengalami kekurangan pasokan minyak hingga 600 ribu barrel per hari selama enam bulan kedepan. Morgan Stanley juga yakin bahwa Libya dan Angola juga akan mengalami penurunan produksi lebih dari yang diharapkan, guna mengimbangi kemampuan Arab Saudi untuk menyeimbangkan pasar dengan meningkatkan output produksinya.

Related posts