Harga Minyak Terkoreksi Akibat Meningkatnya Kekhawatiran Pasar

Harga minyak mentah berjangka turun sekitar 1% di sesi perdagangan hari ini, akibat tekanan dari meningkatnya kekhawatiran terhadap laju permintaan bahan bakar karena epidemi virus corona serta para negara produsen minyak utama yang nampaknya tidak terburu-buru untuk memangkas produksi mereka untuk menopang pasar.

Hingga saat memasuki sesi perdagangan waktu Eropa sore hari ini, pergerakan minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate berada sekitar 0.69% lebih rendah dibanding harga pembukannya hari ini.

Perkembangan terbaru melaporkan bahwa kota terbesar keempat di Korea Selatan telah menjadi salah satu hotspot virus corona, sehingga para penduduknya tetap tinggal di rumah setelah puluhan orang terinfeksi dalam suatu kondisi yang disebut sebagai peristiwa penyebaran virus super.

Saat ini Singapura dan Jepang tengah berada di puncak resesi mereka dan epidemi virus corona akan menjadi fokus utama pembicaraan pada pertemuan para pemimpin keuangan G20 pada akhir pekan ini.

Sementara itu di Cina sebagai negara importir minyak mentah terbesar dunia, semakin menunjukkan peningkatan kasus infeksi baru, bahkan ini tetap terjadi disaat pemerintahan Beijing tengah melakukan upaya untuk menekan penyebaran virus yang sebagian besar telah melumpuhkan ekonomi di negara tersebut.

Salah seorang analis komoditi minyak di Stratfor, Greg Priddy melalu email mengatakan bahwa dirinya berpikir bahwa banyak alasan untuk pasar bersikap hati-hati untuk saat ini, karena dampak epidemi virus corona terhadap laju permintaan minyak masih belum jelas, dan jika hal itu mulai terlihat meskipun dampak secara sederhana, maka hal ini dapat mempengaruhi keputusan Rusia untuk pertemuan OPEC+ pada 5-6 Maret mendatang, mengenai apakah Rusia bersedia untuk mendukung kebijakan pemangkasan lebih lanjut.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan pada hari Kamis lalu bahwa produsen minyak global memahami bahwa saat ini tidak masuk akal bagi OPEC dan sekutunya untuk bertemu sebelum pertemuan resmi mereka.

Kelompok yang dikenal dengan OPEC+ telah menahan pasokan minyak dari pasar untuk memberikan dukungan terhadap harga selama beberapa tahun dari sekarang dan banyak analis yang mengharapkan perpanjangan kebijakan tersebut atau memperdalam batasan pembatasan produksi minyak mereka.

Sedangkan dalam sebuah catatannya ING Economics mengatakan bahwa pihaknya masih percaya bahwa pasar kemungkinan akan diperdagangkan lebih rendah dari level saat ini, mengingat skala surplus selama paruh pertama tahun ini.

Selain itu tekanan terhadap harga minyak datang dari mata uang Dollar yang menguat seiring para investor yang mencari tempat berlindung yang aman, dan nilai tukar greenback yang lebih kuat biasanya membuat harga minyak lebih mahal karena komoditas biasanya berdenominasi Dollar.

Pada pekan lalu stok minyak mentah AS naik dalam empat pekan secara beruntun, meskipun kurang dari perkiraan para analis, sementara persediaan bensin dan minyak distilasi terus mengalami penurunan.(WD)

Related posts