Harga Rumah Di Cina Tumbuh Lebih Lambat

Seiring kebijakan pengetatan yang terus menjadi hambatan pasar di sejumlah kota besar serta laju permintaan yang berkurang di beberapa kota kecil, harga rumah baru di Cina tumbuh dalam kecepatan bulanan yang lebih lambat di bulan November.

National Bureau of Statistics (NBS) merilis harga rumah baru di Cina yang naik 4.0% di bulan November dari bulan yang sama di tahun sebelumnya, yang mana ini menjadi angka pertumbuhan terlemah sejak Februari 2016, dan lebih rendah dari kenaikan tahunan sebesar 4.3% di bulan Oktober.

Menurut perhitungan dari Reuters, tingkat rata-rata harga rumah baru di 70 kota besar Cina mencatat kenaikan 0.1% di bulan November dari bulan sebelumnya, yang merupakan laju paling lambat sejak Maret di saat pasar mengalami pukulan dari kebijakan lockdown yang disebabkan oleh virus corona, dibandingkan pertumbuhan bulanan 0.25 di bulan Oktober.

Pasar properti China telah pulih dengan cepat dari krisis pandemi COVID-19, dengan mencatat penjualan rumah dan investasi yang tumbuh dalam kecepatan tinggi, sehingga mendorong pemerintahan Beijing untuk meningkatkan upaya guna mengurangi tingkat hutang dari sektor-sektor yang sangat berhutang untuk mengekang risiko keuangan.

Dalam rilisan data dari NBS disebutkan juga bahwa terjadi penurunan jumlah kota yang melaporkan kenaikan harga rumah baru di tingkat bulanan yang turun menjadi 36 kota dari keseluruhan 70 kota di bulan November, lebih sedikit dari 45 kota di bulan Oktober.

Namun demikian kenaikan harga tidak mengalami pemerataan dan terkonsentrasi di wilayah Selatan dari Pearl River Delta dan wilaya Delta Sungai Yangtze bagian Timur, sementara sejumlah kota di wilayah Utara disebutkan mengalami penurunan permintaan setelah mengalami lonjakan sebelumnya.

Baru-baru ini pihak regulator perbankan Cina telah menyoroti sektor properti sebagai sebuah risiko yang signifikan terhadap stabilitas keuangan, yang merupakan sebuah ancaman yang jelas namun sedikit diabaikan.(WD)

Related posts