Ifo : Ekonomi Jerman Akan Mengalami Kontraksi

Lembaga ekonomi Jerman, Ifo mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan laju ekonomi akan mengalami kontraksi hingga sebesar 6.6% di tahun ini akibat pandemi corona, serta output nasional yang dinilai tidak akan kembali ke tingkat sebelum terjadinya pandemi hingga akhir tahun 2021.

Ifo mengatakanbahwa ekonomi terbesar di Eropa akan menyusut sebesar 1.9% dalam tiga bulan pertama tahun ini, seraya menambahkan bahwa mereka memperkirakan kontraksi sebesar 12.2% pada kuartal kedua berdasarkan data pemanfaatan kapasitas perusahaan.

Timo Wollmershaeuser selaku head of economic forecasting di lembaga Ifo, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya melihat bahwa kondisi ekonomi tidak akan kembali ke situasi sebelum Corona sampai akhir 2021, yang mana berarti laju ekspansi ekonomi sebesar 8.5% di tahun 2021 mendatang.

Pada pekan lalu Ifo mengatakan bahwa survei tentang moral bisnis Jerman jatuh pada bulan April dalam kejatuhan paling dramatis dalam catatan, sehingga mencatat pembacaan terendahnya sejak terjadinya penyatuan Jerman, akibat pandemi virus yang mengirim ekonomi terbesar di Eropa tersebut ke delam resesi yang dalam.

Sebagai negara eksportir terkuat di Eropa, gangguan terhadap perdagangan global dari pandemi telah menghancurkan pabrik-pabrik Jerman, sementara langkah-langkah penguncian dalam negeri untuk menahan virus telah menekan pengeluaran konsumen.

Terkait dampak pandemi virus terhadap sektor bisnis, produsen mobil dan truk asal Jerman, Daimler telah melaporkan penurunan hampir 70% dalam laba operasional di kuartal pertama dan menyampaikan bahwa aliran uang yang digunakan untuk mebayar dividen di tahun ini akan berkurang banyak di tahun ini.

Pemerintah telah merespons dengan langkah-langkah termasuk paket stimulus 750 miliar Euro ($812.25 miliar), namun kemajuan ekonomi akan bergantung pada seberapa cepat Jerman melonggarkan kebijakan lockdown.

Akan tetapi Kanselir Angela Merkel merasa khawatir bahwa Jerman akan melonggarkan upaya sosial mereka sekaligus menolak tekanan dari sejumlah negara untuk terus maju dengan kebijakan pelonggaran pembatasan secara lebih lanjut.(WD)

Related posts