Header Ads

Imbal Hasil Yang Rendah Telah Menimbulkan Tekanan Bagi US Dollar

Seiring jatuhnya imbal hasil yang rendah serta data ekonomi AS yang menunjukkan kondisi suram, telah menimbulkan tekanan terhadap mata uang US Dollar terhadap sejumlah mata uang utama pesaingnya, hingga menyentuh level terendahnya dalam lebih dari dua tahun terakhir saat memasuki sesi perdagangan waktu AS semalam.

Seperti diketahui bahwa greenback telah mendapatkan keuntungan selama bertahun-tahun sebelum pandemi melanda AS sebagai negara ekonomi terbesar di dunia, menyusul para investor yang merasa khawatir terhadap kejatuhan ekonomi AS sehingga mereka mencari peluang pertumbuhan di tempat lain.

Taruhan terhadap posisi bearish US Dollar naik hingga ke level terbesarnya sejak Mei 2011 silam pada pekan lalu dan perdagangan spot dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa posisi tersebut hanya tumbuh sedikit lebih tinggi sejak saat itu.

Saat ini para investor real money dan leverage memilih untuk mengekspresikan pandangan negatif mereka terhadap greenback melalui pasangan mata uang EURUSD, yang merupakan pasangan mata uang yang paling banyak diperdagangkan di pasar mata uang dunia, sehingga hal ini telah mendorong minat beli terhadap Euro menyentuh rekor tertingginya dalam sepekan terakhir yang ditunjukkan oleh data dari CFTC.

Neil Jones selaku kepala penjualan hedge fund di Mizuho, menilai bahwa kelemahan mata uang Dollar belum akan berakhir, menyusul cukup banyak momentum dan sentimen positif terhadap Euro sehingga meningkatkan minat beli terhadap mata uang tunggal tersebut. 

Reli yang terjadi di pasar ekuitas yang diakibatkan oleh kenaikan saham-saham di sektor teknologi AS, telah menjadi latar belakang positif bagi pasar ekuitas dan sekaligus melemahkan permintaan terhadap safe haven Dollar sementara pembacaan indeks kondisi bisnis Empire State Fed New York yang lebih buruk dari yang diharapkan pada bulan Agustus juga membantu para pedagang tetap pada pandangan bearish mereka pada mata uang.(WD)

 

Related posts