IMF Prihatin Dengan Kenaikan Upah Minimum Korea Selatan Yang Terlalu Cepat

Dalam sebuah tinjauan rutin untuk menilai kebijakan publik dan ekonomi di Korea Selatan, delegasi dari International Monetary Fund menyatakan keprihatinan mereka terhadap laju kenaikan upah minimum di Korea Selatan.

Delegasi yang dipimpin oleh Necmettin Tarhan Feyzioglu telah melakukan pertemuan dengan Menteri Keuangan Korea Selatan, Hong Nam-ki sembari memberikan penilaian terhadap kenaikan dua digit dalam upah minimum selama dua tahun terakhir.

Laju upah minimum di negeri Ginseng tersebut naik 16.4% di tahun 2018 dan mencatat kenaikan 10.9% di tahun ini, dibawah kepemimpinan administrasi dari Moon Jae-in, yang bersifat liberal dalam mengambil kebijakan untuk mencapai pembayaran minimum per jam sebesar 10,000 Won ($8.9) dalam tiga tahun pertama kepemimpinannya.

Dalam hal ini pihak IMF menilai bahwa Korea Selatan memiliki fundamental yang kuat, seperti tenaga kerja yang terampil, basis manufaktur yang solid, sistem keuangan yang stabil, hutang publik yang rendah serta cadangan devisa yang berlimpah. Namun demikian kesemuanya itu justru dinilai telah menimbulkan kekhawatiran terhadap laju kenaikan upah minimum yang cepat, sembari menyerukan agar supaya pasar tenaga kerja lebih fleksibel lagi dalam hal upah minimum dan jam kerja.

Flexicurity – yang menggabungkan fleksibilitas dan keamanan – adalah istilah yang semakin banyak digunakan di pasar tenaga kerja, guna menekankan lebih banyak fleksibiltas dalam hubungan antara pekerja dengan pihak manajemen dan pada saat bersamaan memberikan lebih banyak keamanan bagi para pekerja. Strategi terpadu ini pertama kalinya dipergunakan secara sistemastis di Belanda dan diperkenalkan di negara-negara Eropa sejak pertengahan dekade 90-an.

Saat membahas mengenai dana keamanan kerja, delegasi dari IMF memberikan penekanan bahwa pemerintah harus lebih fokus kepada pemberikan dukungan kepada perusahaan-perusahaan baru dan pemula untuk lebih meningkatkan produktivitas mereka. Sementara itu Kementerian Keuangan melalui Hong Nam-ki mengatakan bahwa negara akan berusaha meningkatkan fleksibilitas di pasar tenaga kerja serta meningkatkan fundamental ekonomi guna meninggkatkan level pertumbuhan potensial.(WD)

Related posts