Header Ads

Inflasi Jepang Mengalami Perlambatan Di Bulan Februari

Laju inflasi konsumen inti Jepang di tingkat tahunan, dilaporkan mengalami penurunan di bulan Februari, seiring jatuhnya harga energi serta pandemi virus corona yang merusak prospek ekonomi Jepang.

Hal ini terjadi karena konsumen lebih berhati-hati terkait pengeluaran mereka, sehingga semakin menambah kekhawatiran bahwa ekonomi Jepang akan masuk ke dalam resesi.

Data inflasi yang lemah ini dirilis setelah beberapa hari yang lalu Bank of Japan mengumumkan paket langkah-langkah pelonggaran darurat dalam upaya mereka untuk menstabilkan kegiatan ekonomi dan pasar keuangan akibat guncangan yang ditimbulkan oleh pandemi virus secara global.

Bagi para pembuat kebijakan dan investor Jepang, risiko pertumbuhan telah melampaui keresahan yang biasa terjadi atas inflasi yang keras kepala, yang jauh dari target 2% BOJ.

Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi, melaporkan data indeks harga konsumen inti, yang meliputi produk minyak tetapi tidak termasuk harga pangan segar yang bergejolak, tumbuh 0.6% pada tahun ini hingga Februari. Angka ini lebih lambat dari kenaikan 0.8% di bulan Januari namun sesuai dengan estimasi media ekonom yang memperkirakan kenaikan 0.6%.

Sementara indeks Core CPI naik 0.2% di Februari dan inflasi core-to-core mencatat kenaikan 0.4%, yang tidak termasuk dampak kenaikan pajak penjualan dan beberapa kebijakan lainnya.

Para analis mengatakan bahwa pukulan dari wabah virus terhadap sektor bisnis dan konsumen, kemungkinan telah mengarahkan ekonomi Jepang ke dalam resesi, menyusul kontraksi yang lebih dalam dari yang diperkirakan pada periode kuartal keempat lalu.

Sektor perdagangan, pariwisata serta rantai pasokan menjadi sektor yang paling dirugikan oleh penyebaran virus dari Cina ini.

Saat laju pesanan baru mengalami kejatuhan, survei bisnis menunjukkan bahwa aktifitas pabrik di Jepang selama Februari lalu, mengalami kontraksi di laju tercepatnya sejak 2016 lalu, sementara ukuran terhadap sektor jasa juga mencatat penurunan di laju terlemahnya dalam hampir enam tahun terakhir.

Bank of Japan mengatakan sedang meningkatkan pembelian aset berisiko dan menciptakan program baru untuk meredakan ketegangan pendanaan perusahaan, yang mana langkah ini menyesuaikan kebijakan dari bank sentral utama lainnya dalam upaya mencegah resesi global.

Pada pekan lalu pemerintah Jepang telah mengumumkan paket langkah-langkah kedua senilai $4 milliar dalam pengeluaran mereka untuk mengatasi dampak ekonomi dari wabah corona, dengan memfokuskan diri kepada dukungan untuk perusahaan berskala kecil dan menengah.(WD)

Related posts