Inflasi Konsumen Inti Jepang Mengalami Perlambatan Di Bulan Februari

Laju inflasi konsumen inti Jepang dilaporkan mengalami perlambatan di bulan Februari lalu, akibat dari penurunan biaya bahan bakar bensin untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun terakhir. Perlambatan inflasi ini setidaknya masih akan menimbulkan tekanan terhadap bank sentral untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan stimulusnya guna mempercepat pertumbuhan harga untuk mencapai target 2%.

Selain itu rilisan data tersebut semakin menambah tanda-tanda bahwa ketegangan perdagangan antara AS-Cina serta melambatnya permintaan global, telah mengganggu laju ekspansi ekonomi dan sentimen bisnis di Jepang. Sejumlah analis menilai bahwa jika pelemahan ini berlanjut maka Bank of Japan kemungkinan besar terpaksa harus memangkas target inflasinya dalam tinjauannya di bulan depan, meskipun saat ini para pejabat bank sentral merasa khawatir harus memperluas program stimulus yang sudah bersifat masif dalam waktu dekat.

Japan National Core CPI, yang mencakup produk minyak namun tidak termasuk biaya untuk makanan segar, tumbuh 0.7% di bulan Februari dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang mana lebih rendah dibandingkan perkiraak pertumbuhan 0.8% dari para ekonom. Angka ini juga melambat dari kenaikan 0.8% di bulan Januari, yang sebagian besar disebabkan oleh penurunan sebesar 1.3% di harga bahan bakar bensin untuk pertama kalinya sejak November 2016 lalu.

Takeshi Minami, kepala ekonom di Norinchukin Research Institute, mengatakan bahwa di saat ekonomi luar negeri mulai melemah, sulit bagi Bank of Japan untuk memproyeksikan target 2% untuk laju inflasinya, sehingga bank sentral kemungkinan akan mempertahankan kebijakan saat ini pada laporan review suku bunga di bulan depan, meskipun tetap ada pertimbangan untuk adanya pelonggaran tambahan di sejumlah sektor ekonomi seiring rilisan data yang lemah akhir-akhir ini.

Gubernur BoJ, Haruhiko Kuroda telah menekankan bahwa bank sentral tidak akan lagi melakukan pelonggaran kebijakan moneter hanya untuk meningkatkan laju inflasi, dan sebagai gantinya akan lebih terfokus kepada momentum yang dihasilkan oleh ekonomi guna memberikan dorongan bagi kenaikan harga.

Hal ini sejalan dengan pandangan bank sentral di awal bulan ini, yang menyiratkan bahwa ekonomi Jepang tengah berkembang secara moderat, sehingga menandakan bahwa mereka tidak akan terburu-buru untuk memperluas stimulusnya. Akan tetapi pandangan tersebut nampaknya melemah setelah pemerintah menurunkan penilaian ekonomi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, menyusul tanda-tanda semakin lemahnya laju ekspor Jepang.(WD)

Related posts