Inflasi Produsen Cina Mengalami Perlambatan Di Bulan Mei

Laju inflasi di sektor pabrikan Cina dilaporkan mengalami perlambatan di bulan Mei, ditengah lesunya permintaan terhadap komoditas serta aktifitas manufaktur yang belum stabil. Pertumbuhan inflasi di sektor ini melambat dari level tertingginya dalam empat bulan terakhir pada bulan April sebelumnya. sehingga memicu kembali peningkatan kekhawatiran terhadap pertumbuhan di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.

Namun demikian harga konsumen yang mengalami lonjakan di laju tercepatnya dalam lebih dari setahun, didukung oleh kenaikan harga daging babi dan buah, dinilai oleh sejumlah kalangan mampu untuk mengimbangi melambatnya laju inflasi dari sisi produsen.

National Bureau of Statistics (NBS) melaporkan indeks harga produsen Cina untuk bulan Mei tumbuh 0.6% di tingkat tahunan, meskipun angka ini sesuai dengan ekspektasi analis, namun masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 0.9% di bulan sebelumnya. Indikator inflasi produsen di Cina, yang menjadi perhatian para analis dan investor, dinilai sebagai indikator permintaan industri dalam perekonomian negara tersebut. Saat tensi perselisihan perdagangan AS dengan Cina mengalami peningkatan, para investor dan analis semakin khawatir bahwa hal tersebut dapat memicu terjadinya resesi global.

Tingkat ekspor Cina di bulan Mei secara tidak terduga dilaporkan kembali ke fase pertumbuhan secara moderat, akan tetapi laju impor justru mengalami penurunan di tinngkat paling tajam dalam hampir tiga tahun terakhir, sehingga hal ini semakin menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi terjadinya resesi global. Perlambatan inflasi harga produsen sejalan dengan penurunan aktivitas pabrik yang terlihat di bulan Mei.

Hal ini dapt terlihat dari meredanya aktifitas pemrosesan komoditas batubara dan logam besi di bulan lalu, sehingga memicu kenaikan harga di produk ekstraksi minyak dan gas alam. Meskipun pemerintah Cina tengah berupaya untuk meningkatkan proyek infrastruktur besar, namun permintaan yang lamban telah memperlambat pertumbuhan harga bahan bangunan.

Dilaporkan bahwa tingkat konsumsi produk baja telah berkurang seiring aktifitas konstruksi yang lesu akibat dari faktor cuaca. Sementara impor komoditas tembaga Cina, yang menjadi ukuran utama bagi permintaan komoditas bahan bangunan, mengalami penurunan sebesar 10.9% di bulan Mei, sekaligus membalikkan kenaikan yang tercatat di bulan April sebelumnya.

Selain itu Biro Statistik Nasional juga melaporkan indeks harga konsumen yang mencatat kenaikan 2.7% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang mana ini sesuai dengan harapan. Indeks harga makanan mengalami lonjakan 7.7% di tingkat tahunan pada bulan lalu, yang merupakan laju tercepatnya sejak Januari 2010, bahkan mencatat hasil yang lebih tinggi dari kenaikan 6.1% di bulan April. Untuk tingkat bulanan laju Consumer Price Index tetap tidak mengalami perubahan dari bulan sebelumnya, dibandingkan dengan kenaikan 0.1% di bulan April.(WD)

Related posts