Header Ads

Japan Factory Output Dilaporkan Mengalami Kenaikan

Output pabrikan Jepang dilaporkan naik lebih dari yang diharapkan pada bulan Januari lalu, sebagai tanda masih adanya bantuan bagi ekonomi negara itu yang tengah menghadapi risiko terjadinya resesi saat wabah virus corona mengganggu jaringan pasokan dan aktifitas bisnis.

Sebelumnya dilaporkan bahwa negara ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut mengalami penyusutan dalam laju tercepatnya dalam hampir enam tahun di kuartal terakhir tahun lalu, akibat kenaikan pajak nasional yang merugikan sektor belanja bisnis dan konsumen serta ditambah sektor ekspor yang menderita akibat lemahnya laju permintaan luar negeri.

Data resmi menunjukkan output pabrik naik 0.8% di Januari dari bulan sebelumnya, yang mana angka ini mencatat ekspansi yang lebih cepat dari perkiraan kenaikan 0.2% dalam jajak pendapat Reuters.

Angka ini juga mengikuti laju kenaikan 1.2% yang direvisi turun dari bulan sebelumnya, serta merupakan kenaikan pertama dalam tiga bulan terakhir.

Para produsen yang disurvei oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri, memperkirakan output akan naik 5.3% di bulan Februari serta kembali merosot 6.9% di bulan Maret mendatang.

Perkiraan untuk bulan Februari ini berdasarkan pada rencana perusahaan, yang berarti bahwa ada perkiraan pengurangan produksi akibat virus corona.

Tingkat produksi mengalami kenaikan seiring peningkatan tajam dalam output mobil dan peralatan transportasi lainnya, yang mampu mengimbangi penurunan output untuk mesin produksi. Untuk persediaan juga mengalami kenaikan di laju tercepatnya sejak maret 2018, naik sebesar 1.5% di bulan Januari dari bulan sebelumnya, menyusul dorongan dari persediaan mobil dan mesin produksi yang lebih tinggi.

Sementara itu sebuah data terpisah menunjukkan bahwa laju penjualan ritel mencatat penurunan 0.4% di bulan Januari lalu, yang merupakan penurunan dalam kecepatan yang lebih lambat dari yang diperkirakan oleh para analis.

Sejumlah data ekonomi Jepang yang dirilis pada hari ini menjadi serangkaian indikator yang lemah dalam beberapa pekan terakhir, termasuk data ukuran aktifitas di sektor manufaktur dan jasa yang memberikan indikasi dampak dari wabah virus corona yang terus memberikan akibat buruk bagi perekonomian.

Pembacaan output yang lebih baik dari perkiraan dapat memberikan beberapa bantuan kepada pembuat kebijakan pemerintah dan bank sentral yang tengah berada dalam tekanan untuk memberikan dorongan bagi laju pertumbuhan.

Selain itu pemerintah Jepang juga merilis angka pengangguran yang menunjukkan tingkat pengangguran dalam skala nasional mencatat kenaikan, sementara ketersediaan lapangan pekerjaan bagi para pelamar kerja justru tergelincir, meskipun hal tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk perubahan dalam metode survei di sektor tenaga kerja.

Ekonom Jepang di Capital Economics, Tom Learmouth dalam sebuah catatannya mengatakan bahwa kenaikan dalam tingkat pengangguran serta ditambah dengan penurunan tajam dalam rasio pekerjaan untuk pelamar di bulan lalu, memberikan petunjuk bahwa kejatuhan ekonomi akibat kenaikan pajak penjualan telah membatasi permintaan perusahaan terhadap para pekerja.

Dilaporkan bahwa tingkat pengangguran yang disesuaikan secara musiman naik menjadi 2.4% di bulan Januari dari sebelumnya di 2.2% pada bulan Desember, sedangkan rasio pekerjaan untuk pelamar dilaporkan turun menjadi 1.49 di bulan Januari dari 1.57 pada bulan Desember sebelumnya.(WD)

Related posts