Jepang Akan Memangkas Jumlah Obligasi Yang Dijual

Pemerintah Jepang berencana untuk memangkas jumlah obligasi terkait inflasi, yang akan dijual di pasar pada bulan depan, hingga kelevel terendah dalam tujuh tahun terakhir, saat jatuhnya harga minyak dan dampak pandemi terhadap ekonomi yang memicu kekhawatiran akan terjadinya deflasi.

Langkah ini akan menggarisbawahi dampak meluas dari krisis kesehatan pada ekonomi terbesar ketiga di dunia, yang berada di puncak dari resesi yang mendalam ketika pandemi virus memaksa konsumen untuk tinggal di rumah dan aktifitas bisnis ditutup.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan pada awalnya berencana menerbitkan obligasi yang terkait dengan nilai inflasi senilai 300 milliar Yen ($2.8 milliar) dalam sebuah lelang triwulanan yang dijadwalkan dilaksanakan pada 8 Mei mendatang.

Dua pejabat pemerintahan yang mengetahui rencana tersebut menyampaikan kepada Reuters bahwa jika melihat pada prospek pertumbuhan harga yang lebih lemah, Kementerian Keuangan diperkirakan akan memangkas jumlah tersebut menjadi 200 milliar Yen, yang akan menjadi jumlah terendahnya sejak tahun 2013.

Jumlah tersebut menjadi separuh dari jumlah yang pada awalnya direncanakan untuk dijual oleh pihak Kementerian Keuangan, saat menyusun rencana penerbitan pada bulan Desember tahun lalu.

Disebutkan bahwa Kementerian akan membuat keputusan resmi pada akhir bulan ini, setelah berkonsultasi dengan investor seperti bank komersial dan perusahaan sekuritas pada hari Kamis.

Penerbitan dalam jumlah yang lebih kecil akan memberikan cerminan berkembangnya prospek bahwa harga tidak akan mengalami banyak kenaikan, sehingga menumpulkan daya tarik obligasi terkait inflasi, yang dirancang untuk membantu melindungi investor dari tekanan inflasi.

Laju inflasi konsumen inti dilaporkan melambat dalam dua bulan berturut-turut di Maret lalu, yang menggarisbawahi kekhawatiran terhadap anjloknya harga minyak serta laju konsumsi yang lemah akibat pandemi virus yang dapat mendorong ekonomi Jepang kembali ke dalam kondisi deflasi.

Dalam pelonggaran kebijakan moneter pada hari Senin, Bank of Japan memangkas perkiraan harga dan menurunkan penilaian ekspektasi inflasi yang menunjukkan tanda-tanda yang lemah.

Dalam pernyataannya kepada wartawan seusai pertemuan kebijakan kemarin, Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda mengatakan bahwa ekonomi global berada di bawah tekanan, baik dari menyusutnya laju permintaan dan keterbatasan pasokan, sehingga inflasi kemungkinan tidak akan mengalami kenaikan secara cepat di belahan dunia manapun.

Dewan kebijakan Bank of Japan untuk tahun fiskal saat ini merilis perkiraan harga konsumen inti yang turun menjadi sebesar 0.7% dari 0.3%, yang mana menjadi penurunan tajam dari proyeksi kenaikan 1% pada tiga bulan lalu.

Para investor merasa kurang tertarik terhadap pembayaran pokok dan bunga dari obligasi terkait inflasi, di saat prospek kenaikan harga di masa depan sedikit berkurang.(WD)

Related posts