Header Ads

Jepang Mencatat Defisit Perdagangan Dalam Tiga Bulan Beruntun

Sebuah data dari pemerintahan Tokyo menunjukkan bahwa dalam tiga bulan berturut-turut Jepang mencatat defisit perdagangan barang mereka di bulan Januari, akibat lemahnya ekspor ke Cina dan AS.

Defisit Perdagangan Jepang mencapai ¥1.31 triliun atau $12 milliar, menyusul defisit ¥154.55 milliar yang telah direvisi pada bulan Desember sebelumnya.

Kementerian Keuangan Jepang melaporkan laju ekspor turun 2.6% di tingkat tahunan menjadi ¥5.43 triliun, dan mencatat penurunan selama 14 bulan secara beruntun, serta impor yang juga turun 3.6% menjadi ¥6.74 triliun, yang menjadi penurunan dalam sembilan bulan terakhir secara berturut-turut.

Untuk ekspor ke Cina, sebagai salah satu mitra dagang terbesar Jepang, mencatat penurunan 6.4% menjadi ¥896.57 milliar, seiring penurunan pengiriman sejumlah produk seperti bahan kimia dan suku cadang mobil, sementara laju impor dari Cina juga turun 5.7% menjadi ¥1.74 triliun, dipimpin penurunan impor barang-barang seperti produk telepon seluler dan aluminium.

Dengan demikian saldo defisit mencapai ¥838.53 milliar, menyusul defisit saldo yang tercatat sebesar ¥567.86 milliar dari aktifitas perdagangan dengan seluruh negara di Asia termasuk Cina yang merupakan penurunan saldo untuk pertama kalinya dalam periode setahun terakhir.

Sementara itu surplus perdagangan Jepang dengan Amerika Serikat naik tipis 0.3% menjadi perdagangan Jepang dengan Amerika Serikat naik tipis 0369.23 milliar, yang mencatat kenaikan pertama dalam lima bulan terakhir, seiring bantuan dari penurunan impor minyak mentah.

Namun ekspor ke negara ekonomi terbesar dunia tersebut justru mencatat 7.7% menjadi perdagangan Jepang dengan Amerika Serikat naik tipis ¥1.05 triliun dan tercatat sebagai penurunan dalam enam bulan beruntun.

Sedangkan untuk perdagangan dengan Uni Eropa, Jepang mencatat defisit perdagangan hingga sebesar ¥91.38 milliar, yang merupakan penurunan dalam tujuh bulan beruntun.

Untuk data Japan’s core private-sector machinery orders mencatat penurunan terbesarnya dalam 15 bulan di bulan Desember lalu, sebesar 12.5% dari bulan sebelumnya, akibat memudarnya lonjakan yang terjadi sebelumnya terhadap permintaan produk mobil dan kereta api.

Sedangkan pesanan yang mengecualikan produk kapal dan utilitas, dilaporkan di angka ¥824.84 miliar.

Sebagai indikator utama dari sektor belanja modal, penurunan pesanan di bulan Desember gagal mengikuti lonjakan kenaikan sebesar 18% di bulan November yang merupakan peningkatan terbesarnya sejak April 2005, seiring dukungan dari pesanan untuk produk mobil dan kereta api.

Salah seorang pejabat pemerintahan mengatakan kepada wartawan, bahwa meskipun terjadi lonjakan di bulan November, namun pihaknya tidak berpikir bahwa situasi akan memburuk dengan cepat seiring terjadinya penurunan terbesar di bulan Desember, yang mematahkan ekspektasi mereka yang mengacu kepada angka-angka selama beberapa bulan sebelumnya.

Pada bulan Desember, pesanan dari sektor non-manufaktur, tidak termasuk untuk kapal dan dari perusahaan listrik, turun 21.3% menjadi ¥465.96 miliar, karena permintaan untuk mobil dan kendaraan kereta api dari operator transportasi dan layanan pos mengalami penurunan.

Secara keseluruhan untuk tahun 2019 lalu, pesanan inti dilaporkan turun 0.7% menjadi ¥10.43 triliun, yang mencatat penurunan pertama dalam dua tahun terakhir akibat sengketa perdagangan antara AS dengan Cina yang menimbulkan tekanan turun bagi belanja modal produsen.(WD)

Related posts