Header Ads

JPMorgan : Kebijakan Tarif Berpotensi Semakin Menekan Ekonomi Cina

Salah seorang ekonom di JPMorgan mengatakan bahwa kebijakan tarif baru AS untuk barang-barang Cina dapat menimbulkan pukulan telak bagi Cina sebagai negara ekonomi terbesar di Asia, dan nampaknya belum jelas berapa banyak lagi yang dapat dilakukan oleh pemerintah Beijing untuk menopang laju ekonominya.

Sejak terjadinya pertarungan tarif yang berlangsung hingga sekarang antara Washington dan Beijing setahun lalu, otoritas Cina telah menggunakan kebijakan moneter dan fiskal untuk membatasi kerusakan ekonomi yang diakibatkan oleh kenaikan tarif AS.

Lebih jauh Bruce Kasman yang menjabat sebagai kepala ekonom dan kepala penelitian ekonomi global di JPMorgan, mengatakan bahwa dirinya melihat pemerintah Cina telah bergerak di berbagai bidang dan memiliki beberapa efek terhadap perekonomiannya.

Namun demikian, banyak ekonom mengatakan tarif tambahan untuk barang-barang Cina yang diimpor oleh A.S. akan merugikan ekonomi China. Laju pertumbuhan Cina telah mengalami perlambatan, seiring Beijing melaporkan produk domestik bruto yang menggalami peningkatan sebesar 6.2% di kuartal kedua tahun ini, yang merupakan level terlemah setidaknya dalam 27 tahun terakhir.

Sejumlah ekonom menilai bahwa ketegangan yang tumbuh di AS dan Tiongkok, serta melambatnya ekonomi Tiongkok dan Eropa merupakan risiko terbesar terhadap pertumbuhan global dalam kurun waktu dekat ini. Kekhawatiran mengenai risiko di luar AS, telah mendorong Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga di bulan Juli lalu.

Para investor juga menjadi semakin khawatir terhadap potensi resesi yang meningkat. Kasman juga mengatakan bahwa ada kemungkinan sekitar 40% terjadinya resesi global dalam enam hingga sembilan bulan kedepan.

Beliau berpikir bahwa saat ini ekonomi global memiliki risiko resesi yang tinggi dan alasannya adalah bahwa para pelaku pasar melihat adanya intensifikasi hambatan yang besar dalam ekonomi global tahun serta jatuhnya kepercayaan bisnis terkait dengan masalah geoolitik, terutama berlarutnya konflik perdagangan antara AS dengan Cina.(WD)

Related posts