Header Ads

Kenaikan Risk Currencies Mereda

Laju kenaikan mata uang yang sensitif terhadap risiko nampaknya mulai mereda di pekan ini, menyusul adanya berita bahwa pihak regulator keuangan Cina tengah membahas kebutuhan untuk mengambil langkah-langkah secara pro-aktif guna menstabilkan pasar perumahan sembari meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko pecahnya bubbling di pasar luar negeri.

Sementara itu pergerakan mata uang greenback masih tetap kokoh terhadap mata uang pesaingnya yang memiliki imbal hasil lebih rendah, seiring pertaruhan pasar terhadap pemulihan ekonomi yang lebih cepat di AS serta ekspektasi Federal Reserve akan menunjukkan toleransi yang lebih besar terhadap kenaikan imbal hasil obligasi dibandingkan sikap bank sentral lainnya.

Kazushige Kaida selaku kepala penjualan FX di Kantor Cabang Tokyo State Street Bank, mengatakan bahwa para pelaku pasar masih belum tahu apakah aksi jual di pasar obligasi telah usai atau belum, namun mereka mengharapkan Bank of Japan untuk terus melakukan pengawasan terhadap imbal hasil obligasi, yang mana ini berarti bahwa akan ada premi imbal hasil yang lebih besar untuk mata uang US Dollar.

Saat ini mata uang tunggal Euro masih berada di bawah tekanan seiring pejabat tinggi dari European Central Bank telah mengeluarkan peringatan terhadap potensi kenaikan imbal hasil obligasi, menyusul Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan bahwa pihaknya akan mencegah kenaikan prematur dalam biaya pinjaman untuk perusahaan dan rumah tangga.

Dalam hal ini salah seorang pembuat kebijakan ECB Francois Villeroy de Galhau mengatakan secara lebih eksplisit bahwa sejumlah kenaikan imbal hasil obligasi yang terjadi baru-baru ini nampaknya tidak beralasan dan pihak ECB harus mendorong kembali penggunaan fleksibilitas yang tertanam dalam program pembelian obligasi.

Perbedaan yang mencolok antara ECB dan The Fed terkait kenaikan imbal hasil obligasi sangat terlihat setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell tidak menunjukkan kekhawatirannya terhadap kenaikan imbal hasil obligasi, setelah sejumlah pejabat The Fed seperti Presiden Federal Reserve Richmond Thomas Barkin menilai bahwa kenaikan imbal hasil ini justru menunjukkan penyesuaian untuk pertumbuhan yang kuat dan prospek inflasi.

Terkait perbedaan penilaian antara bank sentral ini, direktur ekonomi dan pasar di National Australian Bank, Tapas Strickland mengatakan bahwa pihak bank sentral terus menunjukkan pandangan yang berbeda mengenai sinyal yang dikirimkan oleh kenaikan yield obligasi, yang menimbulkan gejolak di pasar akhir-akhir ini.

Sebagai mata uang yang sensitif terhadap risiko, Australian Dollar terpantau mengalami penurunan sebelum pada akhirnya mampu memangkas sejumlah kerugian menjelang dibukanya pasar Eropa siang ini, setelah Reserve Bank of Australia kembali berkomitmen untuk mempertahankan suku bunga di posisi terendahnya dalam sejarah.

Bank sentral Australia tersebut juga menekankan bahwa target lapangan kerja serta prospek terhadap laju inflasi kemungkinan tidak akan mampu terpenuhi hingga paling cepat di awal tahun 2024 mendatang, yang artinya disini adalah RBA masih akan menerapkan kebijakan moneter longgar sembari mempertahankan ekspektasi target inflasi dan tenaga kerja Australia.(WD)

Related posts