Kent : RBA Lebih Fokus Terhadap Target Inflasi Australia

Dalam kesempatan berbicara di event yang diadakan oleh Finance and Treasury Association di Sidney, asisten Gubernur Reserve Bank of Australia Christopher Kent mengatakan bahwa dua kali pemangkasan suku bunga RBA secara berturut-turut hingga ke level terendahnya sepanjang masa, diharapkan dapat memberikan sejumlah dukungan tambahan bagi laju perekonomian Australia di masa mendatang.

Seperti diketahui bahwa bank sentral Australia pada bulan Juli lalu telah memangkas suku bunga acuan mereka menjadi 1% dan sejak saat itu berjanji untuk mempertahankan suku bunga mereka di kisaran yang lebih rendah untuk waktu yang lebih lama, sehingga mampu menekan imbal hasil melewati yield curve obligasi mereka ke level rendah yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Untuk itu Kent mengutarakan bahwa transmisi kebijakan akan bekerja dengan cara yang biasa untuk mencoba menghilangkan kekhawatiran terhadap efektifitas kebijakan moneternya seiring suku bunga yang mendekati level nol persen.

Lebih lanjut Kent juga mengatakan bahwa sikap kebijakan moneter yang lebih mudah telah menyebabkan terjadinya penurunan biaya pendanaan di pasar obligasi perusahaan dan obligasi perbankan sembari memberikan dukungan bagi harga di pasar ekuitas.

Selain itu beliau menyatakan bahwa penurunan suku bunga di Australia telah memberikan kontribusi terhadap terjadinya depresiasi mata uang Aussie. Hal ini dikemukakan menyusul pelonggaran berbasis luas dalam kondisi keuangan di negara tersebut, yang akan memberikan dukungan tambahan bagi laju permintaan di waktu mendatang.

Kent sekali lagi menegaskan bahwa laju inflasi merupakan target utama bagi RBA dan sedikit mengesampingkan untuk menekan tingkat pengangguran sembari menambahkan bahwa suku bunga negatif sepertinya tidak mungkin dijalankan oleh RBA. Untuk itu bank sentral harus menyediakan lebih banyak kapasitas cadangan dari antisipasi yang berjalan saat ini.

Pasar menilai pernyataan Kent ini cukup menarik, mengingat bahwa beliau lebih menekankan fokus bank sentral kepada laju inflasi, karena pasar melihat bahwa tingkat pengangguran masih menjadi faktor utama bagi bank sentral untuk menentukan arah kebijakan moneternya.(WD)

Related posts