Kuroda : BoJ Harus Mempertimbangkan Faktor Eksternal Untuk Menentukan Kebijakannya

Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda mengatakan bahwa bank sentral tentunya akan memperdebatkan faktor risiko luar negeri terhadap tinjauan suku bunga pada pertemuan kebijakannya di pekan ini, sekaligus menggarisbawahi kekhawatiran di kalangan para pembuat kebijakan terhadap kejatuhan ekonomi global akibat trade war AS-Cina.

Perselisihan perdagangan yang terjadi serta melambatnya permintaan global telah menimbulkan keraguan terhadap perkiraan Bank of Japan yang mengatakan bahwa ekonomi Jepang akan terus berkembang secara moderat, sehingga keraguan ini menimbulkan tekanan terhadap bank sentral untuk menerapkan pelonggaran moneter tambahan untuk menopang pertumbuhan.

Dalam pidatonya di depan anggota parlemen Jepang, Kuroda mengatakan bahwa perkembangan ekonomi luar negeri Jepang saat ini mengandung risiko penurunan yang kuat terkait dengan gesekan perdagangan AS-Cina serta laju ekonomi Cina. Dengan demikian pihaknya akan tetap memperdebatkan perkembangan eksternal saat ini, guna melakukan tinjauan yang akan datang, namun Kuroda juga menambahkan bahwa Bank of Japan telah menjaga kebijakan moneter yang sangat longgar.

Bank of Japan diharapkan untuk tetap menjaga kebijakan moneternya tidak berubah, namun juga sekaligus mengisyaratkan kesiapan mereka untuk meningkatkan stimulus jika terjadi peningkatan risiko eksternal yang mengancam ekspansi ekonomi Jepang yang moderat. Lebih lanjut Kuroda mengatakan bahwa Bank of Japan akan memandu kebijakan moneter secara tepat dengan mempertimbangkan dampak perubahan ekonomi luar negeri terhadap prospek ekonomi Jepang sekaligus mendapatkan momentum guna mencapai target inflasinya.

Dengan kebijakan yang dijuluki yield curve control (YCC), Bank of Japan akan memandu tingkat suku bunga jangka pendek di minus 0.1% dengan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun di kisaran nol persen dalam upaya untuk mempercepat laju inflasi ke target 2% yang dinilai sulit.

Sejumlah analis menilai bahwa bank sentral Jepang bisa saja ditekan untuk melakukan pelonggaran lebih besar jika The Fed memangkas suku bunga mereka dalam beberapa bulan mendatang yang mana hal tersebut akan memicu kenaikan nilai tukar Yen terhadap Dollar dan sekaligus memberikan pukulan terhadap ekonomi Jepang yang sangat bergantung dengan sektor ekspornya.

Para pejabat pembuat kebijakan BoJ mewaspadai penggelontoran stimulus dalam waktu dekat, seiring berkurangnya amunisi mereka serta ditambah dengan meningkatnya biaya pelonggaran berkepanjangan yang berdampak terhadap laju keuntungan lembaga keuangan. Barclays mengharapkan pasar keuangan untuk mulai memperhitungkan faktor kemungkinan pelonggaran tambahan pada pertemuan kebijakan Bank of Japan untuk bulan Juli.(WD)

Related posts