Kuroda Menegaskan Tentang Kesiapan Bank Sentral Jepang

Dalam kesempatan berbicara di depan anggota parlemen Jepang pada pagi hari tadi, Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda mengatakan bahwa dirinya tengah meneliti kejatuhan ekonomi dari pergerakan pasar global yang tidak stabil, sembari menegaskan tentang kesiapan bank sentral untuk meningkatkan stimulus.

Kuroda juga mengungkapkan perkiraan adari bank sentral yang menunjukkan kepemilikan atas dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang dapat menimbulkan kerugian setelah indeks saham Nikkei turun dibawah harga 19500.

Beliau menyampaikan bahwa ada ketidakpastian mengenai wabah virus corona dan saat ini pasar mengambil langkah yang sangat tidak stabil. Untuk itu pihaknya akan terus mengawasi bagaimana pengaruh dampak penyebaran virus terhadap ekonom dan tingkat harga Jepang, khususnya melalui perkembangan pasar domestik dan luar negeri dan akan bertindak sesuai kebutuhan tanpa ragu.

Pada sesi perdagangan hari ini sejumlah bursa saham di kawasan Asia terpantau mengalami rebound dan imbal hasil obligasi merangkak naik dari posisi terendahnya sepanjang masa, seiring spekulasi adanya stimulus secara terkoordinasi dari bank sentra di dunia serta pemerintah dari sejumlah negara utama yang berupaya meredam aksi jual panik di pasar.

Epidemi virus corona yang menyebabkan pengaruh yang meluas terhadap ekonomi serta memberikan tekanan yang semakin dalam terhadap pasar, telah menimbulkan desakan terhadap Bank of Japan untuk meningkatkan stimulus mereka pada tinjauan kebijakan di pekan depan.

Saat ini beredar spekulasi di pasar bahwa bank sentral Jepang akan memenuhi janjinya untuk membeli ETF lebih cepat dari komitmen saat ini hingga sekitar 6 trilliun Yen atau senilai $58.12 milliar per tahun.

Sebuah sumber yang dekat dengan bank sentral mengatakan bahwa langkah semacam ini merupakan sebuah opsi yang dapat menjadi pertimbangan bagi bank sentral jika telah mendekati batas pagu sebagai akibat dari pembelian yang agresif.

Kuroda mengatakan kepada parlemen bahwa BOJ telah membeli ETF kumulatif sebesar 2.04 trilliun Yen sejak Oktober tahun lalu. Pernyataan tersebut menggarisbawahi biaya yang dikeluarkan bank sentral dengan memuat ETF, yang tidak memiliki jatuh tempo dan dengan demikian tidak akan jatuh dari neraca bank sentral kecuali jika dijual.

Bank of Japan melakukan panduan suku bunga jangka pendek di -0.1% serta imbal hasil obligasi pemerintah Jepang di kisaran nol di bawah kebijakan yang disebut yield curve control serta melakukan pembelian aset berisiko seperti ETF untuk menyalurkan suntikan dana ke ekonomi Jepang.

Namun para kritikus memperingatkan bahwa pembelian ETF oleh bank sentral berpotensi mendistorsi harga pasar sekaligus mempengaruhi kredibilitas bank sentral karena dinilai merusak kesehatan keuangannya.

Bank of Japan telah mengeluarkan pernyataan darurat pada awal bulan ini, dengan berjanji untuk menawarkan likuiditas yang cukup melalui operasi pasar dan pembelian aset sebagai upaya untuk menenangkan kegelisahan yang melanda pasar.

Sejak saat itu pihak BoJ telah mempercepat laju pembelian ETF, dengan nilai pembelian sebesar 100.2 milliar Yen, yang sesuai dengan rekor kecepatan pembelian yang dilakukan dua kali pada pekan lalu.(WD)

Related posts