Laju Ekspor Cina Naik Secara Tidak Terduga

Seiring dibukanya kembali aktifitas ekonomi di belahan dunia, laju ekspor Cina di bulan Juni menguat secara tidak terduga, demikian pula dengan impor yang mencatat kenaikan untuk pertama kalinya di tahun ini, sehingga semakin memperkuat pandangan bahwa laju pemulihan di Cina telah meningkatkan daya tarik terhadap produknya.

Bea cukai Tiongkok melaporkan laju ekspor di bulan Juni naik 0.5% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, sekaligus mematahkan ekspektasi penurunan 1.5% dari para analis setelah sebelumnya mencatat penurunan 3.3% di bulan Mei, sementara impor mencatat kenaikan 2.7%, mengalahkan ekspektasi penurunan 10% dari para pelaku pasar, menyusul penurunan 16.7% pada bulan sebelumnya.

Salah seorang analis Cina di Ducker Frontier, Boyang Xue mengatakan bahwa dibukanya kembali aktifitas ekonomi di negara-negara ekonomi utama di Eropa dan AS serta meningkatnya permintaan luar negeri terhadap produk Alat Pelindung Diri serta produk masker telah memberikan dukungan bagi ekspor Cina di bulan Juni lalu, selain itu gangguan produksi terhadap negara pesaing perdagangan Cina, turut membantu mengalihkan sejumlah pesanan kepada eksportir Cina.

Secara bertahap ekonomi Cina mampu bangkit dari kontraksi tajam sebesar 6.8% yang tercatat di kuartal pertama lalu, namun laju pemulihan nampaknya masih rapuh karena permintaan global mengalami hambatan akibat pembatasan sosial dan masih adanya peningkatan kasus virus corona, seiring laju konsumsi Cina yang juga masih lemah di tengah hilangnya lapangan kerja serta kekhawatiran terhadap gelombang kedua pandemi.

Namun kinerja ekspor negara tersebut belum terlalu terpengaruh oleh perlambatan global seperti yang ditakutkan oleh sejumlah analis, meskipun lemahnya pesanan luar negeri dapat membebani produsen di kuartal mendatang.

Sementara itu Advanced Research at Shanghai University of Finance and Economics menyampaikan bahwa risiko eksternal seperti memburuknya hubungan antar AS dan Cina, menyusutnya permintaan global serta gangguan terhadap rantai pasokan kemungkinan besar akan menimbulkan tekanan terhadap prospek perdagangan Cina dalam jangka panjang.

Namun Xue mengatakan lebih lanjut bahwa peningkatan impor Cina secara signifikan merupakan indikasi percepatan pemulihan ekonomi negara tersebut, terutama akibat dukungan dari peningkatan substansial dalam investasi di sektor-sektor seperti real estate dan infrastruktur.

Data perdagangan menunjukkan bahwa laju impor bijih besi mengalami lonjakan di bulan Juni lalu, seiring dukungan dari meningkatnya pengiriman dari penambang serta permintaan yang kuat di Cina.

Surplus perdagangan negara untuk Juni mencapai $46.42 milliar, dibandingkan dengan perkiraan surplus $58.6 milliar dalam jajak pendapat dan surplus $62.93 milliar di bulan Mei, sedangkan untuk perdagangan dengan AS juga mencatat surplus yang semakin melebar menjadi $29.41 milliar pada bulan Juni dari $27.89 milliar pada bulan Mei sebelumnya.(WD)

Related posts