Laju Ekspor Jepang Kembali Turun Dalam 6 Bulan Beruntun

Laju ekspor Jepang kembali mencatat penurunan dalam enam bulan terakhir secara beruntun di bulan Mei lalu, akibat dari melemahnya laju pengiriman produk peralatan manufaktur semikonduktor dan suku cadang otomotif ke pasar Cina. Hal ini menggarisbawahi tekanan yang timbul terus menerus dari perlambatan permintaan pasar luar negeri, terhadap ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada sektor perdagangan.

Lesunya pengiriman ke pasar luar negeri Jepang, telah menjadi sumber kekhawatiran diantara para pembuat kebijakan Jepang, terutama akibat perang tarif antara AS dengan Cina yang semakin memanas, sehingga membuat rantai pasokan semakin tertekan dan sekaligus juga memberikan pukulan terhadap laju pertumbuhan, perdagangan dan investasi global.

Kementerian Keuangan Jepang melaporkan bahwa ekspor Jepang mengalami penurunan hingga 7.8% di bulan Mei dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Angka ini lebih besar dari perkiraan penurunan sebesar 7.7% oleh para ekonom dalam jajak pendapat Reuters, menyusul laju penurunan sebesar 2.4% di bulan April. Menjelang survei Reuters terhadap laju perdagangan Jepang dirilis, perusahaan-perusahaan Jepang menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi di negara tersebut kemungkinan akan terhenti dan kenaikan pajak penjualan yang direncanakan oleh pemerintahan Abe diperkirakan akan menghambat aktifitas bisnis.

Pada awal bulan ini para pemimpin negara anggota G20 telah mengeluarkan peringatan bahwa mengintensifkan ketegangan perdagangan dan geopolitik akan meningkatkan risiko terhadap laju pertumbuhan global, namun demikian mereka justru menghentikan seruan resolusi dari trade war AS-Cina yang semakin meluas.

Laju ekspor yang melambat di bulan Mei, kemungkinan juga disebabkan oleh ditangguhkannya aktifitas pabrik karena libur Golden Week selama 10 hari, untuk memperingati penobatan kaisar yang baru. Akan tetapi pelemahan permintaan global secara keseluruhan, berpotensi menimbulkan risiko bagi negara ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut, dan selain itu pendapatan Japan Inc yang goyah akan mereda dalam beberapa bulan kedepan, terutama jika laju permintaan domestik gagal untuk mengimbangi lemahnya ekspor.

Bank of Japan diperkirakan akan tetap menjaga kebijakan moneternya tidak berubah, namun akan memberikan petunjuk kesiapan mereka untuk meningkatkan stimulusnya, dengan catatan bahwa risiko eksternal mengalami peningkatan yang berpotensi mengancam ekspansi ekonomi Jepang yang tumbuh secara moderat.

Lemahnya pertumbuhan ekonomi dapat mendorong Perdana Menteri Shinzo Abe untuk menunda kenaikan pajak penjualan yang direncanakan menjadi 10% untuk ketiga kalinya, yang mana kenaikan sebelumnya di tahun 2014, dinilai menjadi faktor utama kemerosotan ekonomi Jepang.

Dengan anjloknya ekspor, maka surplus perdagangan Jepang dengan AS hanya tumbuh 14.8% di bulan Mei menjadi 395 milliar Yen ($3.64 milliar), yang menjadi sinyal yang mengkhawatirkan terhadap pembicaraan perdagangan bilateral seiring Tokyo yang tengah berada di bawah tekanan Washington untuk memperbaiki apa yang disebut ketidakseimbangan perdagangan yang tidak adil. Angka neraca perdagangan mengalami defisit hingga 967.1 milliar Yen, masih lebih rendah dari perkiraan defisiti sebesar 979.2 milliar Yen dari para ekonom.(WD)

Related posts