Header Ads

Laju Inflasi Jepang Bulan April Dilaporkan Tumbuh Di Laju Tercepat

Salah satu indikator inflasi yang mendapat pengawasan ketat dari Bank of Japan, dilaporkan tumbuh dalam laju tercepat dalam hampir tiga tahun terakhir, seiring sejumlah retailer meneruskan kenaikan biaya kepada sektor rumah tangga sehingga menjadi sinyal positif bagi bank sentral yang tengah berupaya untuk memicu harga konsumen.

Akan tetapi sebagian besar dari kenaikan tersebut berasal dari melonjaknya biaya paket wisata menjelang liburan 10 hari menyambut Showa Day pada bulan ini. Hal ini menimbulkan keraguan para pelaku pasar terhadap berlanjutnya kenaikan laju inflasi jangka panjang, menyusul masih tingginya ketegangan perdagangan diantara AS dan Cina, sehingga menimbulkan beban terhadap prospek ekonomi Jepang yang sangat bergantung kepada sektor eksportir.

Harga konsumen inti (National Core CPI) dilaporkan naik 0.9% di bulan April dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yang mana angka ini sesuai dengan rata-rata perkiraan pasar dan sedikit lebih tinggi dari kenaikan 0.8% di bulan sebelumnya.

Takeshi Minami, kepala ekonom di Norinchukin Research Institute, mengatakan bahwa sejumlah perusahaan nampaknya telah meneruskan kenaikan biaya ke sektor rumah tangga, namun lambatnya pertumbuhan upah dan konsumen tetap sensisitf terhadap laju kenaikan harga, sehingga sedikit diragukan apakah langkah ini akan berdampak luas. Dengan demikian tidak banyak langkah yang dapat diambil oleh BoJ untuk memacu laju inflasi, sehingga kemungkinan masih akan tetap mempertahankan kebijakan ultra longgar untuk beberapa waktu kedepan.

Lebih lanjut Minami memperkirakan bahwa laju inflasi konsumen inti akan mengalami perlambatan menjadi sekitar 0 hingga 0.5% di paruh kedua tahun fiskal saat ini yang akan berakhir di bulan Maret 2020. Sektor korporasi Jepang biasanya merevisi harga barang dan jasa mereka di awal bulan April tahun fiskal yang baru.

Kenaikan harga terjadi di hampir 57% item yang masuk sebagai komponen indeks Core CPI di bulan April, lebih besar dari 54% di bulan Maret. Bank of Japan berharap bahwa kekuatan ekonomi yang berkelanjutan, akan memberikan dorongan bagi perusahaan untuk menaikkan upah dan memberikan daya beli yang lebih tinggi kepada para konsumen, sehingga akan membantu mempercepat laju inflasi.

Ekonomi Jepang dilaporkan tumbuh 2.1% di tingkat tahunan pada kuartal pertama, sehingga mematahkan perkiraan kontraksi yang disuarakan sebelumnya, seiring kontribusi dari ekspor. Akan tetapi ekspansi tersebut tetap dibayangi oleh kelemahan dalam pengeluaran modal dan konsumsi swasta, sehingga menimbulkan keraguan terhadap argumen dari Bank of Japan bahwa laju permintaan domestik yang kuat akan melaju secara moderat akibat melambatnya permintaan global.

Langkah stimulus dalam jumlah besar selama bertahun-tahun telah gagal meningkatkan laju inflasi ke target inflasi 2% yang sulit bagi BoJ, yang memaksa bank sentral untuk mempertahankan stimulus besar-besaran, meskipun kerusakan tingkat suku bunga yang sangat rendah akan berdampak terhadap tingkat keuntungan lembaga keuangan.(WD)

Related posts