Laju Pertumbuhan Australia Di Q1 Diperkirakan Melambat

Sejumlah ahli menilai bahwa penyebaran virus corona yang berawal dari Cina dan saat ini semakin meluas ke seluruh dunia, berpotensi menimbulkan dampak yang besar bagi prospek pertumbuhan ekonomi jangka pendek di Australia.

Ahli strategi portofolio pasar di Blue Ocean Equities, Mathan Somasundaram kepada CNBC menyampaikan bahwa, hal ini tidak terlepas dari kedudukan Cina sebagai mitra dagang terbesar bagi Australia dan merupakan bagian dari jaringan pasokan untuk semua produk konsumen.

Beliau juga mengatakan bahwa saat ini dunia melihat Australia sebagai proxy bagi Cina, yang mana jika ekonomi Cina mengalami perlambatan maka hal ini juga berdampak terhadap ekonomi Australia, dengan demikian potensi pemangkasan gross domestic product Cina dapat merusak laju pertumbuhan GDP Australia.

Hal ini semakin diperparah oleh dampak kebakaran hutan lokal yang memaksa puluhan ribu warga mengungsi dari tempat tinggal mereka.

Berdasarkan asumsi bahwa kondisi tidak akan berubah menjadi lebih buruk, maka para ahli merujuk kepada tiga sektor utama yang akan merasakan dampak wabah virus secara langsung, yaitu ekspor, pendidikan dan pariwisata.

Beberapa ekspor utama Australia termasuk bijih besi, batu bara metalurgi dan termal serta gas alam cair dan produk-produk energi lainnya, akan merasakan dampak langsung seiring Cina yang merupakan salah satu konsumen terbesar dari produk-produk pertambangan tersebut.

Menurut data dari Biro Statistik Australia, negara tersebut mengekspor sejumlah produk ke Cina hingga senilai A$13.89 milliar atau setara dengan $9.1 milliar hingga Desember tahun lalu, sekaligus mencatat 34% dari total ekspor selama periode tersebut.

Shane Oliver selaku kepala strategi investasi sekaligus kepala ekonom di AMP Capital, mengatakan bahwa Cina mengambil sekitar sepertiga dari ekspor Australia dan ekspor terbesarnya berasal dari produk bijih besi dan batubara.

Oliver juga menjelaskan bahwa saat pabrik-pabrik di Cina mengalami penutupan aktifitas, maka permintaan terhadap batubara dan bijih besi tentunya mengalami penurunan, dan diperkirakan bahwa ekonomi Australia akan turun 0.1% di kuartal pertama tahun ini sebelum pada akhirnya akan pulih di kuartal berikutnya.

Dari sektor pariwisata dilaporkan bahwa dalam 12 bulan hingga September lalu, Australia menerima sekitar 8.66 juta pengunjung, yang mana 1.33 juta diantaranya berasa dari Cina dan mereka menyumbang sekitar 27% dari $45 milliar yang dihabiskan oleh para wisatawan dalam perjalannya ke negara tersebut.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dampak dari penyebaran virus corona yang semakin meluas, sangat berpotensi memberikan hambatan bagi laju pertumbuhan ekonomi Australia di sepanjang periode kuartal pertama tahun ini.(WD)

Related posts