Laporan Ketenagakerjaan AS Akan Menjadi Fokus Perhatian

Laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada malam hari ini, akan menjadi fokus perhatian para investor secara ketat karena data ini merupakan yang terakhir sebelum pemilihan presiden dilangsungkan di awal bulan depan di tengah hantaman pandemi terhadap ekonomi AS menjadi permasalahan yang utama.

Laju pertumbuhan lapangan kerja di AS kemungkinan akan mengalami perlambatan lebih lanjut di bulan September, seiring bergesernya laju pemulihan ke level yang lebih rendah di tengah berkurangnya dana pemerintah serta pandemi Covid-19 yang belum memberikan tanda-tanda berakhir sehingga menimbulkan risiko semakin banyak warga AS yang akan menganggur secara permanen.

Tapi kenaikan pekerjaan yang diantisipasi di bulan September akan menjadi yang terkecil sejak pemulihan pekerjaan dimulai pada bulan Mei dan masih akan meninggalkan pasar tenaga kerja jauh dari pemulihan terhadap 22.2 juta pekerjaan yang hilang pada bulan Maret dan April.

Salah seorang profesor keuangan dan ekonomi di Loyola Marymount University di Los Angeles, Sung Won Sohn mengatakan bahwa pemulihan akan terus berlanjut namun dalam laju yang lebih lambat, yang sebagian dikarenakan telah berkurangnya stimulus dari pemerintah AS secara signifikan, dan pihaknya melihat lebih banyak tindakan PHK dan kebangkrutan sehingga pemerintahan berikutnya harus menerapkan lebih banyak dukungan dan dirinya tidak akan terkejut apabila melihat adanya penurunan baru di sektor lapangan kerja menjelang akhir tahun ini.

Hasil jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom menunjukkan bahwa nonfarm payrolls kemungkinan naik 850 ribu lapangan pekerjaan selama periode bulan lalu setelah meningkat 1.371 juta pada Agustus di tengah perekrutan hampir seperempat juta pekerja dalam sensus 2020, yang mana angka tersebut akan meninggalkan lapangan kerja di 10.7 juta di bawah levelnya pada bulan Februari.

Meskipun data penggajian telah mengalahkan perkiraan selama beberapa bulan terakhir ini, namun hal tersebut tidak merubah narasi pertumbuhan yang lebih lambat menuju kuartal terakhir tahun ini.

Sebuah berita terakhir menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump beserta istrinya dinyatakan positif terinfeksi Covid-19, sehingga hal ini menimbulkan tekanan yang sangat besar di pasar ekuitas global, komoditas Minyak dan sejumlah mata uang berisiko lainnya.(WD)

Related posts