Header Ads

Mata Uang Safe Haven Mempertahankan Kenaikannya

Pergerakan mata uang safe haven Swiss Franc dan Yen masih bertahan di jalur penguatannya pada sesi perdagangan hari ini, sementara itu kinerja US Dollar juga masih menunjukkan kenaikannya terhadap sejumlah mata uang berisiko setelah pasar ekuitas global mengalami kejatuhan akibat keraguan terhadap prospek pemulihan ekonomi global.

Keraguan yang timbul terhadap kondisi ekonomi saat ini mayoritas berasal dari penilaian Federal Reserve AS terhadap kondisi ekonominya serta kekhawatiran terhadap gelombang baru penyebaran virus corona, namun sejumlah analis menilai bahwa koreksi yang terjadi di pasar saham merupakan hal yang tidak bisa dihindari setelah mengalami reli.

Mata uang Swiss Franc hingga saat ini telah menyentuh level 0.9395 terhadap US Dollar, setelah pada Kamis kemarin mencatat level tertingginya dalam tiga bulan di 0.9376.

Demikian juga dengan mata uang Yen Jepang yang menguat hingga ke kisaran 106.79 terhadap Greenback, serta mencapai level tertinggi dalam satu bulan di 106.58 pada sesi perdagangan sehari sebelumnya.

Setelah pertemuan dua hari, Fed mengisyaratkan bahwa mereka merencanakan dukungan luar biasa bagi ekonomi AS di tahun ini, yang mana proyeksi pertumbuhan dari para pembuat kebijakan menyusut hingga 6.5% di tengah tingkat pengangguran yang mencapai 9.3%.

Meskipun semuanya telah memicu terjadinya penjualan di pasar saham, namun analis menilai bahwa pejabat The Fed telah berhati-hati selama ini, terutama jika dibandingkan dengan kondisi bullish di pasar keuangan yang terjadi hingga awal tahun ini.

Kepala strategis mata uang di SMBC Nikko Securities, Makoto Noji mengatakan bahwa sedikit membingungkan untuk menimpakan kesalahan terhadap penilaian The Fed terhadap jatuhnya harga saham, yang mana mayoritas pelaku pasar telah mengakui bahwa reli saham yang terjadi mendapat dorongan dari kelebihan likuiditas serta sikap akomodatif The Fed sehingga tidak mungkin memberikan tekanan harga saham untuk bergerak lebih rendah.

Lebih lanjut Noji menilai bahwa secara singkat hal ini terjadi akibat koreksi dari kondisi overbought di pasar, yang memang seharusnya tidak akan bertahan lama, akan tetapi para pelaku pasar harus bersikap lebih hati-hati terhadap potensi berlanjutnya kejatuhan pasar jika berita buruk terus berdatangan dari Cina maupun Eropa misalnya.

Meskipun ketegangan antara AS dan Cina telah mereda, namun sementara itu Eropa tengah menghadapi negosiasi yang sulit di pekan depan mengenai rencana dana pemulihannya.

Selain itu kekhawatiran investor terhadap gelombang penyebaran infeksi corona berikutnya, seiring aktifitas global telah dibuka kembali secara bertahap pasca kebijakan lockdown yang bertujuan untuk meredam pandemi.(WD)

Related posts