Minyak Bergerak Dekat Kisaran Tingginya Didukung Sejumlah Faktor

Pergerakan pasar minyak mentah berada di dekat kisaran harga tertingginya dalam tiga bulan terakhir di sesi perdagangan awal pekan ini, pasca adanya laporan penarikan persediaan minyak mentah yang lebih tinggi dari yang diperkirakan serta optimisme pasar terhadap kesepakatan perdagangan AS-Cina.

Sementara itu para pedagang di pasar komoditi minyak tetap memantau kerusuhan yang terjadi di kawasan Timur Tengah, seiring adanya berita serangan udara AS di kawasan Irak dan Suriah terhadap kelompok milisi yang mendapat dukungan dari Iran. Hingga saat ini minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate mencatat kenaikan 0.05% di kisaran $61.72 per barrel.

Margaret Yang selaku analis pasar di CMC Markets mengatakan bahwa ada beberapa katalis pendorong harga minyak mentah baru-baru ini, yaiut optimisme perdagangan, penurunan stok komersial AS dalam jumlah besar, penurunan mata uang US Dollar serta adanya serangan udara dari AS ke sejumlah wilayah di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu Kementerian Perdagangan Cina pada hari Minggu kemarin mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan hubungan erat dengan pihak AS terkait penandatanganan perjanjian perdagangan yang telah ditunggu oleh kedua pihak sejak lama.

Perjanjian perdagangan fase pertama telah diumumkan pada 13 Desember lalu oleh kedua negara, sehingga Washington memutuskan untuk mengurangi tarif AS sebagai imbalan atas apa yang disebut pejabat AS sebagai sebuah lompatan besar dalam pembelian produk pertanian AS serta barang-barang lainnya oleh Cina.

Selain itu harga minyak juga mendapatkan dukungan dari penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan. Stok persediaan minyak AS turun sebesar 5.5 juta barrel dalam sepekan yang berakhir pada 20 Desember lalu, yang mana angka ini jauh lebih besar dari perkiraan penurunan 1.7 juta barrel dalam jajak pendapat Reuters sebelumnya.

Sedangkan situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah aksi protes di Irak menuntut adanya penutupan ladang minyak Nassiriya yang terletak di bagian selatan negara tersebut, sedangkan AS dilaporkan telah melakukan serangan udara di wilayah Irak dan Suriah terhadap kelompok milisi Kataib Hezbollah yang mendapatkan dukungan dari pemerintah Teheran.

Para pejabat AS mengatakan bahwa serangan udara tersebut merupakan sebuah tindakan sebagai tanggapan atas pembunuhan seorang kontraktor sipil AS dalam sebuah serangan roket terhadap pangkalan militer Irak, seraya mengatakan bahwa tindakan tambahan masih sangat mungkin untuk diambil oleh AS.

Kementerian Perminyakan Irak mengatakan penghentian produksi di ladang minyak Nassiriya tidak akan mempengaruhi ekspor dan operasi produksi negara itu karena akan menggunakan output tambahan dari ladang minyak di Basra.

Di lain pihak perusahaan minyak negara Libya, NOC mengatakan bahwa pihaknya tengah mempertimbangkan untuk menutup pelabuhan Zawiya Barat serta mengevakuasi staf pekerja kilang minyaknya di sana seiring terjadinya bentrokan di dekat wilayah tersebut.(WD)

Related posts