Minyak Kembali Berada Di Jalur Penurunan Bulanan Terbesar

Harga minyak kembali jatuh ke level terendahnya dalam setahun di sesi perdagangan hari ini, serta masih berada di jalur penurunan bulanan terbesarnya sejak akhir 2014 silam. Penurunan ini bahkan terjadi di saat para negara produsen minyak mulai mempertimbangkan untuk memangkas produksi mereka guan membendung peningkatan pasokan global.

Pertumbuhan persediaan minyak mentah global yang sangat pesat, terutama pasokan minyak AS, telah memberikan ganjalan bagi pergerakan harga minyak mentah dunia, akibat laju permintaan yang tidak mampu mengimbangi surplus produksi minyak dunia. Volatilitas harga minyak telah mengalami lonjakan tertingginya sejak akhir 2016 lalu, menyusul para investor yang terburu-buru untuk melakukan hedging untuk melindungi dari penurunan harga lebih lanjut.

Tamas Varga selaku ahli strategi PVM Oil Associates mengatakan bahwa sangat masuk akal untuk membandingkan gambaran ekonomi antara laju permintaan saat ini dengan permintaan saat empat tahun lalu, dan saat ini yang menjadi pertanyaan adalah seberapa banyak lagi penurunan yang akan dicatat oleh harga minyak hingga akhir tahun ini.

International Energy Agency memperkirakan bahwa output dari negara produsen non-OPEC akan mengalami kenaikan hingga 2.3 juta barrel per hari di tahun ini, yang mana perkiraan ini lebih tinggi dari perkiraan pada enam bulan lalu sebesar 1.8 juta barrep per hari. Sementara itu untuk perkiraan permintaan minyak mentah di tahun depan, kemungkinan akan tumbuh sebanyak 1.3 juta barrel per hari, lebih rendah dibandingkan perkiraan permintaan minyak sebesar 1.5 juta barrel per hari pada enam bulan lalu.

Eksportir minyak mentah utama dunia, Arab Saudi mengatakan bahwa pihaknya dapat mengurangi pasokan minyak seiring dorongan terhadap para negara anggota OPEC untuk menyetujui adanya kebijakan pemangkasan output hingga sebesar 1.4 juta barrel per hari, yang disesuaikan dengan rendahnya permintaan terhadap komoditas tersebut.(WD)

Related posts