Header Ads

Minyak Kembali Mencatat Penurunan Di Tengah Perang Harga Arab – Rusia

Harga komoditas minyak mentah kembali mengalami penurunan di sesi perdagangan hari ini, menyusul pemerintah AS yang mengeluarkan larangan perjalanan dari Eropa pasca deklarasi dari World Health Organization yang menyatakan bahwa wabh virus corona saat ini telah menjadi pandemi dalam skala global.

Selain kekhawatiran pasar komoditas minyak juga diperparah dengan ancaman membanjirnya pasokan minyak di harga rendah seiring janji dari Arab Saudi untuk meningkatkan produksi minyak mereka hingga ke rekor tertingginya di tengah perselisihan harga dengan Rusia.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate hingga saat ini bergerak 4.32% lebih rendah di $31.68 per barrel, sementara minyak mentah acuan jenis Brent diperdagangan sekitar 5.3% lebih rendah di $33.88 hingga pertengahan sesi perdagangan waktu Asia.

Keputusan pemerintahan Trump yang mengatakan bahwa AS akan menangguhkan semua perjalanan dari Eropa sebagai bagian dari langkah-langkah mengatasi epidemi virus corona, membawa tekanan besar bagi bursa saham global di perdagangan hari ini.

Larangan perjalanan dari negara-negara Uni Eropa, kecuali Inggris, dinilai akan memberikan hantaman bagi perusahaan maskapai penerbangan AS.  Dengan demikian hal ini tentunya akan berimbas pada berlanjutnya penurunan permintaan untuk bahan bakar jet dan lainnya di tengah pukulan yang menghantam pasar minyak global.

Analis pasar di CMC Markets Singapura, Margaret Yang mengatakan bahwa deklarasi mengenai kondisi darurat global yang dikeluarkan oleh WHO serta larangan lalu lintas penerbangan AS-UE, semakin mengurangi prospek permintaan terhadap sektor energi global, yang waktunya bersamaan dengan perang harga yang meningkat antara Arab Saudi dan Rusia.

Sehingga hal ini akan melanjutkan trend bearish di pasar minyak, yang kemungkinan besar akan menciptakan lebih banyak potensi downside di harga minyak.

Saat ini Uni Emirat Arab telah mengikuti jejak Arab Saudi dengan mengumumkan rencana untuk meningkatkan produksi minyak mereka setelah mengalami keruntuhan pada pekan lalu, akibat ketidaksepakatan antara OPEC dengan negara produsen lainnya diluar OPEC yang dipimpin oleh Rusia.

Perusahaan minyak nasional asal Uni Emirat Arab, ADNOC mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk meningkatkan penjualan minyak mentah menjadi lebih dari 4 juta barrel per hari serta mempercepat dorongan untuk meningkatkan kapasitas produksinya hingga seperempat hingga lima juta barrel per hari.

Espen Erlingsen selaku kepala penelitian hulu di Rystad Energy, yang memperkirakan bahwa minyak harus jatuh ke titik terendah. $ 20 untuk mencapai keseimbangan, mengatakan bahwa tanpa OPEC+ maka pasar minyak global telah kehilangan regulatornya dan saat ini hanya mekanisme pasar yang mampu menentukan keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

Lembaga Administrasi Informasi Energi (EIA) dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), hingga saat ini telah memangkas perkiraan untuk laju permintaan minyak seiring wabah virus corona dan mengharapkan adanya permintaan untuk kontrak minyak di kuartal ini.

Akan tetapi data persediaan minyak mingguan AS, justru menunjukkan efek minimal dari pandemi virus corona, dengan mencatat kenaikan 7.7 juta barrel di tengah penurunan tajam di persediaan bensin dan solar.(WD)

Related posts