Minyak Kembali Menyentuh Level Tinggi Seiring Konflik Libya

Harga minyak mentah kembali naik ke level tertingginya dalam lebih dari sepekan di hari ini, setelah dua pangkalan produksi minyak mentah besar di Libya ditutup ditengah blokade militer, seiring konflik berkepanjangan di negara tersebut.

Kontrak minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate hingga saat ini mencatat kenaikan sebesar 0.70% dan menyentuh harga $59.72 per barrel di sesi perdagangan Asia pagi hari tadi.

Perkembangan terakhir dari konflik yang terjadi di Libya, yang berawal dari persaingan dua faksi yang telah mengklaim hak untuk memerintah negara itu selama lebih dari lima tahun terakhir, menyebutkan bahwa National Oil Corporation (NOC) pada hari Minggu kemarin mengatakan bahwa dua ladang minyak besar di wilayah barat daya negara itu, sudah mulai ditutup setelah pasukan yang loyal kepada Libyan National Army telah menutup saluran pipa.

Terkait akan hal ini, Lachlan Shaw selaku kepala riset komoditas di National Australia Bank di Melbourne, mengatakan bahwa jika gangguan semacam ini berlangsung maka hal tersebut berarti pasar akan bereaksi dengan nada buliish, dan hal ini akan terjadi meskipun pasar global tengah dalam kondisi surplus terhadap stok persediaan, faktanya adalah pasar masih sangat tergantung pada sejumlah wilayah utama yang telah meningkatkan risiko geopolitik.

Sebelumnya harga minyak telah jatuh dalam dua pekan terakhir setelah mengalami lonjakan tajam, menyusul konflik antara AS dan Iran mereda sehingga mampu menenangkan kekhawatiran di pasar global.

Salah seorang juru bicara dari NOC mengatakan bahwa jika ekspor dihentikan selama periode yang berkelanjutan, tangki untuk penyimpanan akan terisi dalam beberapa hari dan produksi akan melambat menjadi 72.000 barrel per hari. Seperti diketahui bahwa Libya telah memproduksi minyak sekitar 1.2 juta barrel per hari baru-baru ini.

Pada pertemuan puncak di Berlin pada hari Minggu kemarin, sejumlah negara asing telah bersepakat untuk mendukung adanya gencatan senjata di Libya, meskipun pembicaraan tersebut terjadi ditengah aksi blokade terbaru. P

ada pertemuan KTT Berlin, yang dihadiri oleh para pendukung utama faksi-faksi Libya yang bersaing, kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa pihaknya telah sepakat untuk menyerukan gencatan senjata sementara di Tripoli selama sepekan terakhir harus segera dirubah menjadi gencatan senjata secara permanen guna memungkinkan berlangsungnya proses politik antara kedua pihak yang berseteru.(WD)

Related posts