Header Ads

Minyak Masih Diperdagangkan Di Wilayah Negatifnya

Minyak mentah berjangka terus diperdagangkan di wilayah negatifnya sejak memasuki sesi perdagangan waktu Eropa siang hari tadi, setelah sebelumnya ditutupturun hampir $40 di hari Senin, akibat kekhawatiran bahwa AS akan kehabisan tempat untuk menyimpan kelebihan persediaan yang disebabkan lockdown.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate hingga saat ini mencatat penurunan hingga lebih dari 30% ke kisaran $15.02 per barrel.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, telah sepakat bulan ini untuk memangkas produksi sebesar 9.7 juta barel per hari, namun pemangkasan tersebut belum akan terjadi hingga bulan Mei dan sementara itu persediaan minyak AS semakin membengkak sehingga tekanan sepertinya masih akan diterima oleh pasar minyak mentah.

Terkait penurunan harga minyak mentah di masa depan dan yang diakibatkan oleh tekanan finansial, Presiden Donald Trump pada hari Senin kemarin mengatakan bahwa pemerintahannya akan mempertimbangkan untuk menghentikan impor minyak mentah dari Arab Saudi.

Jika melihat penurunan harga minyak dalam dua sesi perdagangan di pekan ini, Kepala Ekonomi di Bank Julius Baer Swiss, Norbert Ruecker mengatakan bahwa harga minyak yang bergerak ke kisaran negatif merupakan kesalahan sementara yang mencerminkan aliran yang mengalami tekanan di pasar berjangka dan menekankan kondisi penyimpanan di wilayah Midwest AS.

Pusat penyimpanan utama A.S. di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk kontrak West Texas Intermediate diperkirakan akan penuh dalam beberapa minggu kedepan.

Kebijakan lockdown untuk meredam pandemi covid-19 telah mengurangi laju permintaan terhdap minyak hingga sekitar 30%, sekaligus menghasilkan surplus di persediaan minyak mentah yang membutuhkan tempat penyimpanan.

Lima orang analis dalam survei Reuters memperkirakan bahwa persediaan minyak mentah AS diperkirakan akan naik sekitar 16.1 juta barrel dalam seminggu hingga 17 April, setelah sebelumnya mencatat kenaikan terbesar dalam sejarah dalam periode sepekan.(WD)

Related posts